Nama Islami, Tak Mesti Bahasa Arab

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Memberi nama anak mesti yang bagus. Namun, haruskah pada mualaf berganti nama? benarkah nama dianggap islami mesti berbahasa Arab atau mirip-mirip orang Arab?

Alhamdulilah, Freddy Siauw kakak Felix Siauw resmi menjadi mualaf. Memeluk Islam. Freddy mengucap dua kalimat syahadat dibimbing Ustaz Adi Hidayat, Ahad (8/9). Felix sudah lebih dulu memeluk Islam. Nama keduanya tidak berubah. Tetap Felix dan Freddy.

Dua bulan sebelumnya, tepatnya Jumat 21 Juni lalu, Deddy Corbuzier juga resmi menjadi mualaf. Deddy mengucap dua kalimat syahadat dibimbing Gus Miftah, pemilik Pondok Pesantren Ora Aji. Deddy juga tidak mengubah namanya.

Foto: Tribunnews

“What is in a name?” tulis penyair Shakespeare. Islam mengajarkan membuat nama mesti bagus bagi anak. Nama yang baik sangat besar pengaruhnya bagi sang penyandang nama tersebut. “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian,” begitu sabda Rasulullah dalam hadist riwayat  Abu Dawud. Islam juga mengajarkan nama pada seseorang mengandung doa dan harapan dari orangtuanya.

Sumber: Arthurlla

Dulu setidaknya pada tahun 1980an, ada empat momen penting orang memberi nama. Pertama anak saat baru lahir, kedua saat menikah, dan ketiga saat berhaji. Setidaknya itu terjadi di Jawa Tengah bagian utara.

Pemberian nama anak saat baru lahir sering asal-asalan. Anak lahir di hari pon maka diberi nama Ponimin, lahir pahing bernama paijan dan seterusnya. Nama yang disematkan pada buah hati tersebut hanya sebagai penanda hari lahir. Selain itu, ada banyak anak bernama Ekrak di wilayah itu. Ekrak artinya pengki.

Nama Ekrak juga sebagai penanda bahwa anak itu sewaktu lahir orang tuanya menjalani tradisi buang anak untuk membuang sial. Jabang bayi ditaruh di pengki lalu “dibuang” ke tempat sampah. “Ee… aku dapat bayi. Cantik,” ujar seseorang dengan gembira seakan benar-benar menemukan bayi perempuan. Bayi yang masih merah itu kemudian dikembalikan ke ibunya. Selanjutnya bayi itu diberi nama Ekrak. Tradisi ini lazim dilakukan masyarakat Jawa bila sebelumnya bayi perempuan yang lahir selalu meninggal. Mereka meyakini cara itu sebagai membuang sial.

Nama Ekrak jelas kurang elok. Tapi masih ada kesempatan mengubah nama bagi mereka, yakni pada saat menikah. Perubahan nama itu biasa dilakukan mempelai perempuan dari rakyat jelata yang menikah dengan kaum priyayi. Nama Ekrak, diganti dengan Rahayu, misalnya. Atau nama yang lebih indah lainnya.

Ganti nama juga lazim dilakukan masyarakat sepulang menjalankan ibadah haji. Nama Rahayu diganti menjadi Hj. Sa’odah atau Hj. Fatimah dan seterusnya. Nama Suparno menjadi H. Abdul Karim dst. Biasanya nama sepulang haji itu berbau kearab-araban.

Para mualaf juga seringkali ganti nama. Tradisi itu masih berlaku sampai saat ini. Dalam pertemuan dengan KH Ma’ruf Amin, Deddy Corbuzier sempat diberi nama Islam oleh sang Kiai. Ia memberikan dua pilihan nama Islam. “Kalau nggak Ahmad, ya Muhammad. Pilih mana yang enak. Namanya nggak usah diubah, tambahin saja,” ujarnya. Sejauh ini Deddy tak menyematkan salah satu dari dua nama itu. Dia tetap Deddy Corbuzier.

Sebagian ulama berpendapat tak wajib mengganti nama begitu menjadi mualaf. Hanya saja, jika namanya buruk menurut Islam, maka  disyariatkan untuk mengubah setelah masuk Islam. Perubahan nama bisa dianggap menjadi penanda yang jelas bahwa orang itu telah berpindah agamanya menjadi muslim.

Kembali ke Freddy Siauw. Nama Freddy tentulah nama yang bagus. Freddy bisa dimaknai varian dari Frederick dalam Bahasa Jerman bermakna pemimpin yang cinta kedamaian. Sedangkan dalam Bahasa Inggris bermakna pembawa kedamaian, pemimpin kedamaian.  Bentuk lain dari Fred, Fredy, Fredie.

Sumber: Brilio

Boleh jadi ada yang berpendapat nama Freddy tidak Islami. Bagi mereka yang berpendapat demikian, biasanya mereka beranggapan nama Islami mesti beraroma kearab-araban. Nama Asad seakan lebih mendekati Islam dibandingkan misalnya Singa. Padahal maknanya itu sama saja: Singa.

Begitu juga nama Habibah seakan lebih afdhol dibandingkan Kekasihku atau Cintaku. Memang agaknya aneh membuat nama, kok, Cintaku atau Kekasihku. Tapi kalau Habibah sudah pasti cantik.

Lalu, lebih bagus nama Bahir, ketimbang Elok, Fuhaid atau Fahd daripada Harimau, Hamdun ketimbang Puji, Husni daripada Indah, Robih daripada Beruntung atau Bejo (bhs Jawa).

Nama Robih dan Bejo cukup banyak. Tapi nama Beruntung jelas agak aneh. Apalagi nama ‘Kunci’ pasti nggak bermutu. Jelas lebih indah, enak didengar dan perlu dikenal bila nama itu dibahasa-arabkan menjadi ‘Miftah’.

Tue Sep 10 , 2019
Medan, LiraNews – Ratusan supir truk pengangkut container yang tergabung dalam Persatuan Supir Truk Pelabuhan (PSTP) Belawan, gelar aksi unjuk rasa damai pada Senin siang, (09/09/2019) di PT Samudera Logistik Jalan Raya Pelabuhan, Kelurahan Bagan Deli, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara. Dalam orasinya mereka menuntut berupa santunan kepada […]