Nasir Djamil Kecam Penahanan Wartawan Mongabay.com

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, LiraNews – Anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil mengecam, penahanan terhadap seorang wartawan asing Mongabay.com Philip Jacobson di Palangkaraya, Selasa (21/1/2020).

Hal tersebut disampaikan Nasir di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (23/1/2020).

Menurut Nasir, meskipun tidak memiliki visa kerja, namun Philip pada saat itu sedang melakukan tugas jurnalistiknya terkait isu lingkungan hidup yang tentu saja berhubungan dengan hajat hidup orang banyak.

“Pertama bahwa melekat dalam diri dia itu seorang jurnalis ya, tentu kalau dia mengunjungi Indonesia, visanya itu visa kunjungan bukan visa tugas, tapi karena dia punya naluri sebagai seorang wartawan dia mencoba untuk memotret situasi dan kondisi yang ada, apalagi terkait dengan hajat hidup orang banyak, isu lingkungan itu kan menyangkut dengan hajat hidup orang banyak,” katanya.

Politisi PKS tersebut menilai, tindakan aparat penegak hukum menahan Philip sebagai tindakan yang berlebihan.

“Saya pikir tidak perlu sebenarnya ditahan ya, apalagi ditersangkakan. Bisa saja dia dikembalikan ke negaranya, tidak perlu diproses secara hukum.

Menurut anggota DPR RI asal Dapil Aceh 2 tersebut, seharusnya pemerintah berterima kasih kepada Philip atas reportasenya yang dapat dijadikan bahan evaluasi bagi instansi yang bersangkutan.

“Justru, menurut saya, kalau kita mau jujur, kita sangat terbantu dan sudah seharusnya berterima kasih karena dia sudah meliput itu, sehingga itu kemudian menjadi evaluasi bagi penyelenggara pemerintah,” paparnya.

Apalagi, lanjut Nasir, kalau isu lingkungan itu adalah isu yang kemudian menyebabkan kerusakan atau berdampak terhadap kesehatan, masyarakat, dan lain sebagainya.

“Saya sangat menyayangkan kalau kemudian yang bersangkutan ditahan, lalu kemudian dijadikan tersangka, dengan alasan menyalahgunakan visa kunjungan yang ada dan paspornya. Tidak perlu sebenarnya,” imbuh mantan anggota DPRD Aceh tersebut.

Nasir menyarankan, pihak imigrasi harus lebih peka dalam menjaga hubungan baik Indonesia dengan negara lainnya, dan yang terpenting harus lebih menghormati profesi seorang wartawan.

“Hal seperti ini menurut saya imigrasi harus lebih peka dan melihat ke depan dalam menjaga hubungan baik antar satu negara dengan negara lainnya, dan yang paling penting menghormati profesi seorang wartawan, karena apapun ceritanya dia pasti punya tanggung jawab moral,” tegasnya.

Nasir berpendapat, adanya Pengawasan Orang Asing (PORA) membuat Philip tidak perlu ditahan, dan cukup hanya diingatkan saja.

“Sebenarnya tidak perlu ditahan, cukup diingatkan dan bagaimana kemudian kan ada PORA, pengawasan orang asing. Nah inilah yang seharusnya mengingatkan,” ujarnya.

Kemungkinan besar, kata Nasir, ada kekhawatiran dalam benak penyelenggara foto-foto tersebut akan disalahgunakan untuk mendeskreditkan Indonesia.

Nasir mengaku, sebetulnya paradigma tersebut sudah ketinggalan zaman.

“Ada kekhawatiran mungkin, dalam.benak penyelenggara ini ada kekhawatiran kalau foto-foto atau berita itu akan mendiskreditkan Indonesia dan sebagainya, saya pikir hal-hal seperti itu sudah kuno itu,” pungkasnya.

Sebagaimana dilansir Kompas.com, Kantor Imigrasi Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menahan wartawan Mongabay.com asal Amerika Serikat, Philip Jacobson. Penahanan mulai berlangsung pada Selasa (21/1/2020).
Pengacara Jacobson dari Lembaga Bantuan Hukum Palangkaraya Aryo Nugroho mengatakan, petugas Imigrasi sebenarnya sudah mendatangi kliennya sejak 17 Desember 2019.

Kala itu, petugas menyita paspor Jacobson karena diduga melanggar izin tinggal di Indonesia. Aryo mengatakan, kliennya datang ke Indonesia menggunakan visa bisnis.

Terkait kedatangan Jacobson ke Palangkaraya, Aryo menjelaskan, Editor Mongabay.com itu sedang membantu kontributor lokal untuk menulis artikel soal dugaan kriminalisasi peladang di Kalimantan. LN-RON

banner 300x250

Related posts

banner 468x60