Pelangi Jingga Persatukan Perbedaan Anak Bangsa

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Jakarta, LiraNews — Lagu “Kebyar-Kebyar” rupanya menjadi fenomena  musik tanah air sejak dirilis oleh Almarhum Gombloh pada tahun1979. Lagu tersebut lekat dengàn pesan-pesan untuk kecintaan terhadap tanah air. Maka tidak heran setiap kali ada demo, apalagi era reformasi lagu ini menghiasi jalanan Ibukota, sebagai penyemangat.

Bukan hanya demo, setiap perhelatan event kebangsaan, HUT kemerdekaan, pertunjukkan musik, kampanye dan lain-lainnya, termasuk arena sepak bola nasional maupun internasional, lagu ini. berkumandang diantara riuhnya suporter.

Jika terjadi kericuhan demo atau diarena sepak bola, “Kebyar-Kebyar” bak menghipnotis. Semuanya tersadarkan, bahwa semuanya adalah anak bangsa, menjaga Indonesia sebagaimana yang telah diwarisi oleh pejuang kemerdekaan  “The Founding Fathers”.

Kebyar dalam KBBI adalah Jiwa. Artinya sebagai bangsa yang terdiri beragam suku agama dan ras harus memiliki jiwa nasionalis, semangat persatuan dan keutuhan berbangsa dan bernegara. Hidup rukun dan damai menjadi ciri khas Indonesia dalam naungan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu.

Indonesia

Merah darahku, putih tulangku

Bersatu dalam semangatmu

Indonesia

Debar jantungku, getar nadiku

Berbaur dalam angan-anganmu

Kebyar-kebyar pelangi jingga

Indonesia

Nada laguku, simfoni perteguh

Selaras dengan simfonimu

Kebyar-kebyar pelanggi jingga.

Itulah sepenggal lirik “Kebyar-Kebyar”, pengobar semangat juang.

Menurut Ilusioner Joe Thunder (48) kebyar-kebyar pelangi jingga, maksudnya, berbeda-beda warna seperti pelangi yang indah dipandang mata. Adanya pelangi itu petunjuk bagi semua, anak bangsa yang berbeda warna namun tetap indah dalam kebersamaan.

Indah dalam keberagaman agama, beragam suku, beragam seni dan budaya. Artinya Indonesia ini kaya raya dengan aneka ragam dengan segala keindahan dalam perbedan.

“Pelangi itu berbeda warna. Kalau hanya satu warna tidak indah dong.  Mejikuhibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu). Dari perbedaan warna itu menghasilkan yang indah. Maka hati kami, penyanyi, seniman dan semuanya yang menyatukan perbedaan dan bijak dalam pengabdian apapun,” ujar Joe pada liranews.com di Jakarta baru-baru ini.

Meskipun ada perbedaan, itu tidak menjadi alasan untuk bertikai. Terjadinya pertikaian sama-sama warga negara, maka sepertinya orang tersebut kurang belajar. Kalau sudah belajar maka bisa mengartikan perbedaan itu indah. Apalagi ini terkait dengan ajang wartawan Jakarta dengan tujuan menyatukan.

Tuhan saja menciptakan Malaikat dan Iblis berbeda. Keduanya punya peran dan tugasnya masing-masing. Kalau Joe mengaku, tugasnya menghibur yang mengarah ke  tuntunan. Beda lagi, karena pada setiap hajatan kemerdekaan dia  hanya menyampaikan pesan lewat seni.

Jadi, lanjut dia, lagu yang melegenda ini sangat berkesan bagi setiap orang mendengarnya. Alasannya, lagu tersebut ada kaitanya dengan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Namun jika dikaitkan lagi dengan politik pasca Pilpres 2019 diharapkan kondisinya ke depan lebih baik dari hari sebelumnya.

Dalam bait tersebut ada juga syair  “Andaikan matahari terbit dari barat kau tetap Indonesiaku”, katanya, itu hanya andaikan. Matahari terbit dari sebelah Barat, namanya tetap Indonesia. Tidak akan berubah jadi negara Arab Saudi atau Amerika Serikat. Sigi dan Donggala diguncang gempa, tsunami di Aceh namanya tetap Indonesia.

“Kalau pemahaman saya seperti ini jenengah (anda) lahir di Indonesia, walau sudah domisili di Amerika tetap asal kelahiranmu Indonesia. Kalau ini kan bahasa seni. Saking cintanya Indonesia, “terangnya.

Ketika menyanyikan lagu tersebut, Joe tampak bersemangat, karena sebagai seniman dia harus memberikan yang terbaik, yang terindah. Menyanyikan lagu itu Pertama, karena diminta panitia dan Kedua, harus benar-benar memahami arti dari pada lagu itu.

Yang jelas, Gebyar Kemerdekaan ini menyatukan perbedaan dan tetap bijak dalam pengabdian. Nah, itu bahasa yang bisa dijabarkan. Berarti, di dunia ini tidak ada yang sama. Misalnya, Joe menyuruh karakternya diikuti orang lain. Tentu tidak bisa diikuti, bisa berbeda.

Bahkan ribuan wartawan juga karakternya beda. Di antara wartawan ada yang rukun dan ada yang tidak. Masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda.

Oleh karena itu, rukun dan tidaknya suatu bangsa, kembali lagi bertanya-tanya, kenapa ada kiamat. Tentu sampai kiamat pun sebagian penduduk bumi tidak pernah rukun. Tetapi, manusia jangan pernah berhenti menghimbau untuk mengarahkan, merukunkan.

“Kembali lagi. Mengajak merukunkan lewat seni. Seni menyatukan semua. Menyatu dan tidaknya, itu atas kehendak Allah,” katanya.

Dia mengajak hanya sebatas seorang pekerja seni. Tentu, bukan hanya dia saja yang mengajak, tapi semua elemen bangsa mengajak untuk rukun dengan caranya sendiri. Salah satunya mengaitkan dengan lagu “Kebyar-Kebyar” sebagai lambang persatuan dan kerukunan bangsa.

“Tapi kalau ada pihak yang berusaha memecah kerukunan, egolah yang harus dikurangi. Sebenarnya musuh bangsa ini tidak ada. Musuh bangsa adalah hawa nafsu kita sendiri,” tuturnya.

Joe merasa sedih melihat perilaku pihak-pihak yang hanya mementingkan hawa nafsu. Namun sebagai manusia biasa, rakyat biasa hanya bisa berdoa, mudah-mudahan negeri ini aman. Para seniman juga hanya bisa bersuara lewat seni dan berharap, siapa tahu ada yang tersentuh hatinya.

Suara rakyat, seniman tentu akan diketahui oleh pemerintah lewat pemberitaan media baik eletronik maupun online atau cetak, termasuk media sosial. Jutaan rakyat akan berusaha menyatukan perbedaan dan selalu bijak dalam pengabdian.

Selain itu, para seniman mengajak  anti hoax atau penyebaran berita bohong, anti narkoba dan lain-lain. Namun disisi lain, pemerintahan juga memiliki peran dan tugas masing-masing. Tujuannya juga sama ingin persatuan dan kerukunan terjaga.

Apapun bahasanya ini diresapi, bahkan orang bodoh itu kalah sama orang pintar. Tapi orang pintar bisa dikalahkan oleh orang licik. Orang licik kalah sama orang hoki atau beruntung. Tapi orang yang hoki dikalahkan oleh orang dekat dengan Tuhan. Jadi, kalau orang sudah dekat dengan Tuhan, menghadapi yang bodoh, pintar, licik dan yang hoki pasti paling bijak, .

Lagu merah darahku putih tulangku, menggambarkan, semangat bangsa ini untuk menyatukan. Semangat berkobar, mengikuti acara dari pagi, panas-panasan siang hingga malam hari, tentu untuk Indonesia.

“Arti kemerdekaan bukan untukku. Tapi kemerdekaan untuk seluruh Indonesia, “lanjutnya.

Meski tidak ngefans Gombloh, namun ketika menyanyikan “Kebyar-Kebyar” dirinya berusaha menjiwai. Tidak bisa tampil maksimal atau memberikan warna musik seperti ini kalau tidak dibarengi latihan dari awal.

Vocal magic, ilusioner menjadi ciri khas dari Joe Thunder, berbeda dengan seni yang lain, seperti rocker Ahmad Albar, Ikang Fauzi. Artinya, dirinya tampil beda dengan karakter khas ilusioner se-Indonesia. “King of Master Indonesia Joe Thunder”.  Michael Jackson ala Indonesia.

Ternyata, orang  Indonesia mampu mengekspresikan dirinya dengan seni, dengan segala kekurangan dan kemampuannya. Makanya, Joe berusaha mengajak, menyatukan dari perbedaan itu, seperti pelangi jingga ala Gombloh, saling menghargai, memaknai perbedaan.

Mungkin Amerika dan negara maju lainnya kalah dengan keanekaragaman seni dan budaya dan kesuburan tanah Indonesia, jenis tanaman apa pun bisa tumbuh di Indonesia, kalau membicarakan lagi georafis Indonesia.

Lagu “Kebyar Kebyar” itu sampai kapanpun masih ada. Joe tidak bisa berkomentar panjang lebar, sampai kapan pun lagu ini selalu berkumandang dinyanyikan oleh anak anak bangsa. Bahkan Joe juga menciptakan lagu “Kemilau” tujuannya hanya untuk menyampaikan dan mengajak.

“Makna, isinya sama. Menyatukan perbedaan dan bijak dalam pengabdian,” katanya.

Seniman tidak bisa berbuat banyak, seniman hanya bisa menghibur, menyatukan perbedaan dan lain-lainnya lewat seni. Selain itu mengajak ikut berdoa pada Tuhan, agar mempersatukan perbedaan jadi indah. Perbedaan yang sudah disepakati oleh pendiri bangsa.

“Kita hanya bisa berdoa siapa yang berkehendak bukan kita, tapi Tuhan atas permintaan manusia. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan,” ujarnya.

Harapan kedepan agar masyarakat itu tidak terlena dalam permusuhan, Joe hanya berupaya semampu mungkin, karena diatas langit masih ada langit. Dia hanyalah rakyat biasa yang ingin melihat kedamaian. Namun, sebenarnya juga ada yang lebih berwenang seperti keberadaan aparat negara, ada pejabat negara bahkan ada juga kepala negara. semuanya itu bisa bergerak lewat bidangnya.

Harus diakui, orang seperti dirinnya tidak bisa berada dilingkaran kekuasaan. Namun kalau Tuhan menghedaki, maka dia bisa kemana-mana. Kalau Tuhan tidak mengehendaki, paling tidak berusaha semampunya, para seniman Indonesia  lewat acara Forum Wartawan Jakarta yang berkerja sama dengan Pesona Selebrity Indonesia. Kebetulan Joe menjadi Icon dalam acara Gebyar Kemerdekaan tersebut.

Para seniman hanya bisa mendoakan dan gotong royong. Cinta kasih sesama bukan berarti untuk memiliki. Tuhan saja mencintai hambanya, “Ar-rahmanirrahim”, segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Jadi, bukan berarti ingin memiliki manusia, karena manusia ciptaaNya .

Tapi yang membuatnya prihatin, ketika melihat  kondisi sekarang, sepertinya bangsa ini diadu domba. Makanya Joe berpesan agar semua elemen bangsa membenahi, mulai dari diri sendiri dulu. Misalnya, ketika menyuruh mandi temannya, sedangkan dia sendiri belum mandi. Yang benar itu mandi dulu baru menyuruh orang lain.

“Artinya, jangan sibuk mengurus  orang lain, rumah tangga orang lain dan itu menyebabkan permusuhan. Menghargai perbedaan seperti pelangi jingga,” pungkas Joe.

Reporter: Abuzakir Ahmad

Mon Sep 9 , 2019
Karawang, LiraNews – Persika yang dibanggakan masyarakat Kabupaten Karawang bubar. Itu disampaikan mantan Manajer Persika Karawang Rakhmat Gunadi, Senin (9/9/2019). “Hari ini, atas satu pertimbangan, demi keberlangsungan Persika yang lebih bagus, demi kebaikan semua. Hari ini Tim Persika Karawang kami nyatakan dibubarkan,” ungkapnya. Untuk selanjutnya, kata dia, Persika menjadi ranah […]