Pelau yang Eksotis juga Mistis

Hari ke-3 Perjalanan Wakil Presiden LSM LIRA Irham Maulidy HR, S.Sos, M.Sos ke Tulehu, Ambon.

Tulehu, LiraNews – Pagi itu, Rabu 30 Desember 2020 selepas Sholat Subuh, kami menyempatkan diri jogging sambil mengamati hiruk pikuk pasar ikan tradisional Tulehu. Sesekali kami menanyakan harga ikan hasil tangkapan nelayan yang dijajakan di bibir pantai.

Read More
banner 300250

Jangan ditanya mengenai harga, tentu sangat murah sekali, ikan tongkol sebesar paha pria dewasa saja harganya cuma Rp10.000 itupun masih bisa ditawar dan bisa juga langsung dibakar. Bandingkan bila kita membeli di pasar tradisional Surabaya, pasti jauh di atas harga tersebut.

Setelah berkeringat, kami kembali ke penginapan dan terlibat diskusi kecil dengan Mas Ikhsan Tualeka, mengupas tentang adat, tradisi, dan keadaan NEGERI PELAU kampung kelahirannya. Dan berhubung cuaca hari ini cerah, kami berencana nyebrang ke Pelau Pulau Haruku.

Di saat asik ngobrol, tiba-tiba kami dikejutkan oleh getaran bumi seperti lewat di bawah tempat duduk kami, ya itulah gempa yg menurut info BMKG berkekuatan 3,3SR dan berpusat di 9 KM Utara Ambon. Ini berarti persis di tempat yang saya tinggali.

Sontak, kami semburat lari keluar. Tapi setelah sadar kami merasa aneh sendiri, karena orang-orang disekitar kami biasa saja dengan aktivitas mereka. Rupanya gempa semacam ini sudah biasa bagi mereka. Karena di atas penginapan kami terdapat pemandian air panas yang berarti ada blerang/gunung berapi aktif, serta merupakan lempengan bumi (the ring of fire), jadi wajar sering terjadi gempa.

Negeri Pelau, Negeri Sejuta Tradisi

Matahari semakin meninggi, kami segera berkemas menuju ke dermaga tradisional Tulehu. Dengan cekatan Mas Ikhsan memandu dan mengkonsolidir segala persiapan menuju Pelau, mulai dari menyiapkan sewa speed boat sampai kuli panggul yang membawa koper dan barang bawaan kami.

Sekitar 1 jam speed boat membawa kami menuju Dermaga Cinta Pelau Pulau Haruku (unik juga ya nama dermaganya). Setiba di Pelau kami jalan kaki, karena memang cukup dekat, rumah Mas Ikhsan dengan dermaga, sekitar 200 meter saja. Bahkan terlihat jelas dari dermaga.

Kami langsung menuju Rumah Sowa atau rumah tetua/leluhur yang dituakan, karena Orang Tua mas Ikhsan saat ini sebagai tetua di klan/marga Tualeka. Sambutan ramah penuh keakraban dan persaudaraan dari beliau membuat saya sangat terkesan.

Marga Tualeka di Pelau adalah keluarga bangsawan dan keturunan para raja. Banyak pejabat di Maluku dari marga Tualeka, Tuasikal, Latuconsina, Talaohu, Salampessy dan lainnya. (akan penulis kupas secara khusus)

Selepas Sholat Dzuhur, kami istirahat melepas penat dan lelah setelah hampir 1 jam diombang-ambingkan speed boot dengan kecepatan cukup tinggi.

Jam menunjukkan pukul 15.00 WIT. Kami berkeliling kampung pelau, sesekali menyapa sanak, family, dan tetangga untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan misi kami untuk memberikan beasiswa pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam – Roudlotut Tholibin III bagi anak-anak yatim, fakir, miskin dan kurang mampu.

Alhamdulillah respon masyarakat sangat antusias dan mulai merencanakan memondokkan anaknya di pesantren kami.

Di tengah kampung berbukit, kami mampir ke Benteng New Horn peninggalan penjajah Belanda yang dibangun tahun 1656 Masehi. Di tempat ini masih ada sisa-sisa meriam, dan di depan Benteng yang berada persis di bibir pantai, telah dibangun semacam tempat bersantai sambil melihat lautan biru dan Pulau Seram di sebrang sana, indah nan menawan bro.

Pantai Jannain Indah Laksana Surga

Dari namanya saja, sudah identik dengan keindahan, dalam bahasa Arab Jannah adalah surga berarti pantai ini merupakan pantai surga dan begitulah realitanya.

Pasir putih nan lembut bagaikan tepung sangat terasa lembut saat kami menginjakkan kaki di pasir putih pantai Jannain. Lokasi Jannain berada tepat sebelum pintu masuk Negeri Hulaleu. Konon Negeri Hulaleu merupakan kampung halaman penyanyi legendaris Glann Fradly dan presenter kondang Kick Andy, yaitu Andy F Noya.

Matahari beringsut menuju peraduan, Pulau Haruku sebentar lagi gelap. Rencana untuk bakar ikan dan menikmati sunset di Pantai Jannain urung kami lakukan karena suasana sangat ramai dengan adanya pertandingan persahabatan sepak bola pemuda Negeri Hulaleu.

Kami segera bergegas meninggalkan Pantai Jannain dan singgah di Kampung Waimital. Kampung ini dihuni masyarakat asal Buton Sulawesi. Disini kami disambut Aisyah atau Ica, sahabat Mas Ikhsan saat masih sekolah SD di Pelau.

Berbagi Suami

Aisyah dan beberapa masyarakat menyambut kami di sawung pinggir pantai seraya menyuguhkan makanan tradisional khas Buton, yaitu Suami (bukan suami dalam arti keluarga bro).

Bahan dasar Suami ini dari Pohong/Ketela Pohon yang dibuat bentuk kerucut halus, disuguhkan bersama ikan bakar dan sambal terasi, serta kuwah colo-colo (campuran asam, jeruk, tomat dan cabe) dengan krupuk yang unik dari kelapa muda agak tua sedikit. Rasanya jangan ditanya, woww pastinya maknyusss mantap banget, apalagi memang saya suka dengan selera asin dan pedas.

Kuwah colo-colo dan sambal terasinya serasa menari nari di lidah, ini pengalaman pertama makan suami, dan kami sebut berbagi swami karena bentuk kerucutnya tersebut kita ambil bareng-bareng dengan dicubit dan dicelupkan ke colo-colo, baru disantap dengan nikmat. Sambil kebawa mimpi. Rekomendeed bila anda ke Ambon coba makanan Suami khas Buton ini.

Related posts