Pemerintah Seolah Tak Jemu Dengan Politik Pencitraan

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:

LiraNews.Com

Bagikan:

Jakarta, LiraNews.com – Jika pemerintah benar-benar ingin menerapkan Pancasila dalam kehidupan bernegara harusnya lebih jeli dalam menetapkan seseorang yang pantas menerima penghargaan.

Hal itu dikatakan Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI), Don Zakiyamani terkait sikap istana yang mempolitisasi anak dalam peringatan hari lahir Pancasila belum lama ini.

Dia menilai Istana tidak memiliki data yang cukup terkait tulisan remaja Afi Nihayah Faradisa yang ternyata hasil plagiat. AFI tak perlu menjadi korban politasasi apabila pihak Istana cermat dan cerdas dalam memilih seseorang dengan data yang akurat.

“Pemerintah seolah tak jemu dengan politik pencitraan dengan mengorbankan Afi karena kecerobohan pihak Istana. Pancasilta tida mengajarkan plagiat,” ujar Don dalam keterangannya, Senin (5/6/2017).

Untuk itu, dia mendesak Istana mengklarifikasi kebenaran dugaan plagiat yang dilakukan Afi. Menurutnya, kasus ini mirip dengan kasus pidato Jokowi terkait peringkat ekonomi Indonesia.

JIMI juga mengingatkan agar Jokowi tidak menyibukan diri dengan pencitraan menuju 2019 dan menggunakan anak-anak sebagai bahan kampanye Pancasila.

“Semestinya Jokowi fokus pada regulasi yagn tidak sejalan dengan Pancasila. Misalnya, PP No. 103 tentang Hunian Asing, yang memberi peluang asing menguasai tanah dan air Indonesia meter per meter,” pungkasnya. LN-JMP

Bagikan:
Komentari Melalui Facebook
Mon Jun 5 , 2017
LiraNews.Com