Pemindahan Ibukota, Jokowi Pilih Proyek Daripada Mensubsidi Rakyat

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, LiraNews – Pemindahan ibukota negara terus menjadi sorotan. Anggaran yang dibutuhkan dalam pemindahan ibukota tersebut tidak sedikit, dana yang dibutuhkan pemerintah dalam proyek tersebut mencapai Rp466 Triliun sementara negara tidak memiliki dana sebesar itu. Untuk mengejarnya, beberapa negara diminta menanamkan investasi bahkan beberapa orang dipastikan masuk ke dalam dewan pengarah ibu kota baru oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan. Ketiga orang itu adalah Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohamed bin Zayed (MBZ) sebagai ketua dewan pengarah, kemudian pendiri dan CEO Softbank Masayoshi Son, dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.

Menanggapi hal ini, Ketua Umum Barisan Relawan Nusantara (Baranusa) Adi Kurniawan menilai proyek tersebut terlalu dipaksakan. Menurutnya, pemindahan ibukota belum menjadi sesuatu yang urgent di tengah banyaknya persoalan yang melanda di negara ini.

“Ibukota baru, proyek yg dipaksakan. Asing dilibatkan menjadi dewan pengarah dalam proyek pembangunan pusat pemerintahan RI tersebut. Apa itu tidak merusak pertahanan kita? Ini mau bangun pusat pemerintahan atau pusat bisnis?” Ujar Adi lewat keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (24/01/2020).

Ia mengatakan seharusnya Presiden Jokowi memprioritaskan subsidi rakyat daripada pembangunan infrastruktur. Apalagi, kata dia, saat pilpres 2019 lalu Jokowi sendiri pernah berjanji untuk menciptakan Sumberdaya daya Manusia (SDM) yang unggul.

“Pemerintah hari ini lebih peduli dengan pembangunan infrastruktur yg dibiayai oleh asing daripada mensubsidi kebutuhan rakyat dan memakmurkan bangsanya. Bagaimana mau menciptakan SDM unggul jika subsidi rakyat dicabut. Rakyat kan butuh gizi dan nutrisi yang baik,” tuturnya.

Lebih lanjut ia menilai Pemerintahan Jokowi sekarang ini tak jauh berbeda dari pemerintahan sebelumnya. Sama-sama menumpuk beban rakyat Indonesia dengan hutang luar negeri.

“Dari presiden ke presiden hanya meninggalkan beban. Prestasi yg dibangun tidak bisa dibanggakan karena dibangun dengan beban yg akan ditanggung oleh rakyat Indonesia dan anak cucunya di kemudian hari,” tandasnya. LN-TIM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60