Ketum Parsindo: Bangsa Indonesia Harus Temukan Makna Baru Sumpah Pemuda

  • Whatsapp
Presiden LSM LIRA, Drs, HM. Jusuf Rizal, SE, SH, M.Si
banner 468x60

Jakarta, LiraNews — Peringatan Sumpah Pemuda (Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia) 28 Oktober jangan hanya menjadi seremonial yang hampa makna.

Karena itu, Presiden LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat), Drs. HM. Jusuf Rizal, SE, SH, M.Si mengajak seluruh anak bangsa, dari Sabang sampai Merauke, Pulau Miangas sampai Pulau Rote, untuk menemukan makna baru dari Sumpah Pemuda sesuai tantangan jaman yang semakin besar.

Read More

banner 300250

“Seharusnya momentum peringatan Sumpah Pemuda menjadi dasar untuk menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa yang kian besar. Apalagi saat ini Persatuan dan Keberagaman dalam Bhinneka Tunggal Ika sudah terusik,” kata HM. Jusuf Rizal, kepada media di Jakarta, dalam refleksi peringatan Sumpah Pemuda ke-92 yang diperingati setiap 28 Oktober.

Jusuf Rizal yang juga Sekjen Media Online Indonesia (MOI) mengingatkan, saat ini Bangsa Indonesia sedang terbelah, karena para pemimpin yang lahir dari rahim pemuda lebih mementingkan urusan pribadi dan kelompoknya saja. Mereka melupakan nasib rakyat.

“Sesungguhnya kita sudah kehilangan marwah semangat Sumpah Pemuda; Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia. Persatuan bangsa ini kian lemah. Semangat pemuda untuk melakukan perubahan, kini tinggal jargon dan slogan semata. Pemuda sudah banyak kehilangan idealisme dan masuk dalam lingkaran kapitalis,” tegas Jusuf Rizal aktivis pekerja dan buruh itu.

Ketum Parsindo, HM. Jusuf Rizal saat serah terima SK Kepengurusan Parsindo Tolikara, Papua

Menurut pria berdarah Madura-Batak mengingatkan, seyogyanya semangat Sumpah Pemuda menjadi modal penting bangsa Indonesia untuk bisa maju menjadi negara besar yang diperhitungkan dunia.

Tetapi masyarakat bangsa ini, jelas Jusuf Rizal, menghambat diri sendiri dengan mengedepankan perbedaan dan keberagaman. Masalah SARA masih terus menjadi alat politik kelompok dan golongan. Padahal semestinya itu sudah selesai, jika kita ingin membangun bangsa yang besar dan kuat.

Jusuf Rizal yang merupakan pendiri Partai Swara Rakyat Indonesia (Parsindo) menilai Indonesia saat ini seolah kembali ke masa lalu dengan dipusingkan oleh penyebaran hoaks, radikalisme, intoleransi yang didasari perbedaan, keberagaman, baik suku, agama dan golongan.

Padahal di era globalisasi dan revolusi industri 4.0, Jusuf Rizal menilai semestinya masyarakat sudah bicara tentang masa depan yang lebih baik, dengan kehadiran dan memanfaatkan tehnologi itu.

“Untuk itulah, kaum pemuda dan bangsa ini harus menemukan makna baru Sumpah Pemuda agar tidak terjebak pada serimonial, slogan dan jargon semata, tanpa makna,” tegasnya.

“Kaum pemuda harus mampu mengkonsolidasikan dirinya dalam satu barisan dan satu kekuatan, solid dan visioner,” tegas Jusuf Rizal.

Presiden LSM LIRA, HM Jusuf Rizal (tengah) bersama Yossy S Manoppo dan Steven A Liow.

Pesan penting juga disampaikan Jusuf Rizal terkait peranan pemuda dalam kancah politik kebangsaan. Pemuda harus menyadari posisinya sedang dikerdilkan dan dibonsai oleh kekuatan politik maupun kekuasaan.

Bagi Jusuf Rizal, tantangan Sumpah Pemuda saat ini adalah bagaimana Pemuda Milenial ikut menyelesaikan berbagai problem bangsa, mulai dari masalah SARA, Korupsi, Kesenjangan Sosial, Pendidikan, Hukum yang masih tajam kebawah, tumpul ke atas, Peredaran Narkoba, penyebaran Hoaks, Radikalisme, Intoleransi, maupun krisis kepemimpinan kaum muda.

“Kini Pemuda harus bersatu, tidak hanya mengkonsolidasikan diri, tapi juga mempersiapkan calon pemimpin muda yang visioner agar dapat membawa bangsa ini lebih maju,” ujarnya.

“Pemuda harus dapat menjadi solusi dari berbagai problem bangsa. Menemukan makna baru Sumpah Pemuda ditengah globalisasi agar semangatnya selalu hadir untuk Indonesia Maju,” tegas HM. Jusuf Rizal, SE, SH, M.Si.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60