Pengamat: Vaksin Jadi Game Changer dan Kemitraan Global Kunci Mengakhiri Covid-19

Jakarta, LiraNews – Vaksin untuk virus corona (Covid-19) belum akan siap hingga akhir tahun depan. Demikian dikatakan Dale Fisher, Ketua Jejaring Peringatan dan Tanggap Wabah (Global Outbreak Alert and Response Network) dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/ WHO).

Fisher juga mengatakan, keyakinan Presiden Donald Trump bahwa vaksin Covid-19 akan selesai pada akhir tahun 2020 sebagai hal yang agak terlalu dini.

Mengomentari perkembangan tersebut, pengamat politik internasional Arya Sandhiyudha menyatakan, vaksin akan jadi game changer dari perkembangan Covid-19 dunia, termasuk dampaknya terhadap İndonesia.

“Sebab itulah saya mengatakan siapapun yang memprediksi berakhirnya Covid-19 ini hanya berbasis modelling kuantitatif tanpa menimbang sama sekali faktor kondisi politik internasional akan meleset,” kata Arya kepada para wartawan, Kamis (21/5/2020).

Menurut Arya yang merupakan Doktor Bidang Hubungan Internasional, salah satu kuncinya nanti bukan sekedar waktu penemuan vaksin, tapi kapasitas negara mengembangkan diplomasi untuk mendorong kerjasama global dan solidaritas global.

“Sebab tanpa itu, akan ada perbedaan diantara negara-negara dunia dalam kemudahan mengakses vaksin. Sementara vaksin itu jadi salah satu faktor yang menentukan untuk mengakhiri pandemi, di negara manapun,” jelasnya.

Arya menegaskan, perlunya sebuah negara tidak dapat mengembangkan diplomasi dengan baik untuk mengakhiri pandemi Covid-19.

“Indonesia perlu mengembangkan kerjasama global agar tidak terjebak dalam pandemi berkepanjangan. Semua negara di dunia saling membutuhkan dalam situasi seperti sekarang ini,” tuturnya.

Sebaliknya, lanjut Arya, tiap negara juga punya peluang kontribusi ketika telah berhasil menekan angka kasusnya, seperti Taiwan yang dengan cepat mencegah ledakan kasus di dalam negeri dan mengirimkan bantuan 17 juta masker ke ragam negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa.

“Kemampuan negara menggalang kerjasama global diperlukan untuk mengundang solidaritas negara lain untuk membantu kita menangani persoalan ini,” imbuhnya.

Arya yang juga Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) berharap İndonesia dapat terus memainkan peran diplomasi agar negara besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok menghadapi Covid-19 bersama.

“Indonesia perlu terus menjalankan peran diplomasi agar keduanya tidak melanjutkan “Perang” (dagang -red) yang mereka lakukan sebelum masa Covid-19. Keduanya harus stop saling menyalahkan dan mengalihkan energinya untuk membentuk solidaritas global, yang pada akhirnya memberikan kemudahan dan kemurahan akses yang sama pada negara manapun terhadap vaksin,” tegasnya.

Atas faktor inilah Arya memprediksi wabah pandemi baru berakhir di Indonesia 2021.

“Jadi faktor politik internasional seperti ini yang menurut saya perlu dipertimbangkan. Prediksi kami di TIDI minimal 2021 baru berakhir,” pungkasnya. LN-RON