Pindad Akan Gandeng Korsel dan Kanada Untuk Kebutuhan Amunisi TNI dan Polri

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Bandung, LiraNews — Setiap tahun kebutuhan amunisi bagi prajurit TNI dan Polri mencapai 400 juta butir, Maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut, PT Pindad (Persero) akan menggandeng investor dari Korea Selatan (Korsel) dan Kanada.

Nah, dengan menggandeng investor asing, Pindad memproyeksikan akan memiliki kapasitas produksi amunisi hingga 400 juta butir per tahun pada tahun 2023 mendatang.

Direktur Utama PT Pindad, Abraham Mose mengatakan, bahwa rencana tersebut sudah memasuki tahapan pengkajian teknis untuk pemilihan teknologi.

Hal ini kemudian berlanjut dengan tahapan penyusunan feasibility studies untuk memenuhi proses perizinan yang dibutuhkan.

“Diharapkan proyek itu bergulir pada semester kedua tahun depan. Di sisi lain, Pindad tengah mengebut pengerjaan fasilitas produksi amunisi kaliber yang berlokasi di Malang,” ujarnya.

Saat ini, sambungnya, progres pembangunan pabrik sudah mencapai 70% dan ditargetkan bisa beroperasi pada Desember 2019. .

Kelak, jika pabrik itu beroperasi, produksi amunisi kaliber Pindad akan bertambah, dari sebelumnya hanya 120 juta butir per tahun menjadi 240 juta butir per tahun.

Untuk mempercepat penyelesaian pabrik itu, sekarang Pindad tengah mempersiapkan mesin produksi tambahan.

“Kami menunggu beberapa mesin masuk, kalau November sudah masuk semua, Desember sudah bisa peresmian pabrik,” katanya, seperti dipansir kontan.

Seperti diketahui, penambahan fasilitas produksi tersebut menelan investasi sebesar Rp 400 miliar. Adapun dananya bersumber dari penyertaan modal negara (PMN).

Di sisi keuangan, kinerja Pindad tercatat cukup positif. Hingga semester I-2019, Pindad sudah mengantongi perolehan kontrak Rp 4 triliun atau sudah mencapai 49,38% dari target kontrak sebesar Rp 8,1 triliun di akhir 2019.

Perinciannya, kontrak senilai Rp 2,7 triliun untuk alat-alat persenjataan yang digunakan keperluan pertahanan dan keamanan (hankam).

Lalu ada catatan kontrak senilai Rp 1,3 triliun untuk alat-alat berat yang digunakan bagi keperluan industrial business. LN-RED

Thu Sep 5 , 2019
Jakarta, LiraNews —  Film Gundala karya Joko Anwar, meski banyak perbedaan dengan versi komiknya, bagi saya memiliki latar yang lebih kontekstual dengan zaman now. Di film tersebut, sosok Gundala hadir dalam atmosfer sosial-politik yang carut marut. Pertama, terjadi penindasan dan ketidakadilan terhadap rakyat kecil. Kedua, premanisme dan kriminalitas semakin marak. […]