PKS Ingatkan Pemerintah Bahaya Liberalisasi Industri Pertahanan

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, LiraNews– Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Mulyanto mengingatkan Pemerintah agar berhati-hati terhadap bahaya liberalisasi dalam pengelolaan dan penyertaan modal asing pada industri alat utama sistem pertahanan keamanan sebagaimana diatur dalam ketentuan RUU Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker), yang baru disahkan.

Mulyanto menilai, ketentuan dalam RUU Ciptaker terkait penyertaan modal asing di sektor pertahanan sangat rentan dan terbuka bagi liberalisasi industri pertahanan.

Read More

banner 300250

Mulyanto merujuk beberapa pasal dalam RUU Ciptaker dari dokumen final 812 halaman, dan membandingkannya dengan UU eksisting, yang dinilai membuka peluang terjadinya liberalisasi industri di bidang pertahanan.

“Dalam UU No.25/2007 tentang Penanaman Modal diatur ketentuan mengenai bidang atau jenis usaha yang tertutup bagi penanaman modal pada Pasal 12 ayat 2) hurup a, bahwa: Bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal meliputi: a. produksi senjata, mesiu, alat peledak dan peralatan perang,” kata Mulyanto, Jumat malam (16/10/2020).

“Sementara dalam RUU Ciptaker, Pasal 12 ayat 2) hurup e diatur ketentuan bahwa: Bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal meliputi: e. industri pembuatan senjata kimia,” sambungnya.

Selain itu, lanjut Mulyanto, dalam UU No. 16/2012 tentang Industri Pertahanan, Pasal 52 disebutkan, (1) Kepemilikan modal atas industri alat utama seluruhnya dimiliki oleh negara. (2) Kepemilikan modal atas industri komponen utama dan/atau penunjang, industri komponen dan/atau pendukung (perbekalan) dan industri bahan baku yang merupakan badan usaha milik negara, paling rendah 51% (lima puluh satu persen) modalnya dimiliki oleh negara.

“Sementara dalam RUU Cipta Kerja, Pasal 52 ayat (1) disebutkan kepemilikan modal atas industri alat utama dimiliki oleh badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik swasta yang mendapat persetujuan dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertahanan. Sedang terkait dengan pasal kepemilikan Negara sebesar minimal 51% dihapus,” papar politisi PKS ini.

Menurut Mulyanto, ketentuan dalam RUU Ciptaker terkait dengan industri pertahanan ini sangat longgar dan berpotensi bagi terjadinya liberalisasi industri pertahanan.

“Dari segi bidang usaha saja sudah terlihat aroma liberalisasi tersebut, karena bidang usaha yang tertutup dalam RUU Ciptaker hanya dibatasi pada industri pembuatan senjata kimia,” ungkapnya.

Sementara, sambung Mulyanto, produksi senjata, mesiu, alat peledak dan peralatan perang menjadi terbuka bagi penanaman modal asing.

“Belum lagi dari aspek kepemilikan modal. Dalam RUU Ciptaker disebutkan kepemilikan modal atas industri alat utama dimiliki oleh BUMN dan/atau badan usaha milik swasta, berarti termasuk swasta asing,” tuturnya.

Karena frasanya adalah ‘dan/atau’, jelas Mulyanto, maka ketentuan ini bisa difahami juga sebagai: kepemilikan modal atas industri alat utama adalah BUMN ‘atau’ badan usaha milik swasta.

“Artinya badah usaha milik swasta atau asing dapat memiliki modal seratus prosen atas industri alat utama ini. Pemahaman ini menjadi semakin kuat, manakala pasal kepemilikan BUMN yang minimal sebesar 51% dihapus dalam RUU Ciptaker,” terangnya.

Untuk itu, Wakil Ketua F-PKS DPR RI ini meminta Pemerintah perlu berhati-hati dalam pengelolaan dan penyertaan modal asing pada industri alat utama sistem pertahanan ini.

“PKS menolak liberalisasi industri pertahanan tersebut, apalagi sampai dikuasasi oleh modal asing. Karena ini terkait dengan kepentingan nasional (national interest) dan kedaulatan bangsa,” tegasnya.

Mulyanto menghimbau, industri hankam ini wilayah high tech yang sensitif, yang harus dikuasai SDM patriot negeri yang andal.

“Kita justru harus menguasai industri ini, bukan malah menyerahkan kepada pihak asing,” ujarnya.

Anggota Komisi VII DPR RI ini minta Pemerintah lebih cermat dan berhati-hati dalam pengelolaan industri pertahanan tersebut, agar kepentingan nasional tetap mendapat prioritas, termasuk aspek alih teknologi dan pembinaan SDM industri strategis nasional.

Lebih jauh, Mulyanto berharap, Pemerintah mampu melindungi keberadaan industri strategis nasional.

“Jangan sampai industri strategis ini justru dikuasai swasta asing. Karena dalam jangka panjang dikhawatirkan akan berdampak pada pertahanan, keamanan dan kedaulatan bangsa,” ingatnya.

Mulyanto pun mendesak Pemerintah harus punya komitmen kuat dalam menjaga sekaligus mengembangkan industri strategis ini.

“Kalau perlu kita beli kembali aset nasional strategis yang telah dijual ke pihak asing, seperti Indosat misalnya, bukan malah membuka industri pertahanan ini kepada pihak asing,” pungkas legislator asal Dapil Banten 3 ini. LN-RON

banner 300x250

Related posts

banner 468x60