PKS Kritik Pemerintah Lebih Pentingkan Buzzer Daripada Riset Vaksin

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, LiraNews – Beredarnya temuan Indonesian Corruption Watch (ICW) mengenai gelontoran dana hampir sebesar Rp1 triliun oleh pemerintah untuk keperluan sosialisasi kebijakan melalui jasa influencer (tokoh berpengaruh) membuat Wakil Ketua Fraksi PKS (F-PKS) DPR RI Mulyanto bereaksi keras.

Pasalnya, kata Mulyanto, pada saat yang sama anggaran untuk lembaga riset yang saat ini sedang bekerja keras menyiapkan vaksin virus corona hanya sekitar Rp5 miliar.

“Pemerintah terkesan lebih mementingkan citra daripada kesehatan dan keselamatan rakyat. Padahal hasil kerja para peneliti vaksin ini sangat dibutuhkan masyarakat agar bisa keluar dari pandemi Covid-19,” kata Mulyanto kepada para wartawan melalui keterangan tertulis, Jumat (21/8/2020).

Mulyanto menegaskan, ketimpangan alokasi anggaran ini sangat tidak wajar dari segi kepentingannya.

“Saat ini orang lebih butuh vaksin hasil riset para peneliti daripada celoteh para influenzer,” tegas anggota Komisi VII DPR RI.

Mulyanto mendesak, pemerintah lebih serius mendorong riset vaksin Merah Putih yang tengah dikembangkan Konsorsium Riset Covid Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).

“Konsorsium yang dimotori oleh LBM Eijkman dengan lembaga litbang nasional lainnya, termasuk pihak industri BUMN Kimia Farma, sedang berupaya menemukan formula vaksin yang tepat untuk melawan Covid-19,” jelasnya.

Untuk itu, Mulyanto minta pemerintah lebih serius mendukung kerja peneliti vaksin Covid-19 dengan cara menambah anggaran yang lebih memadai.

“Anggaran yang besar itu lebih baik dialokasikan untuk kepentingan riset vaksin. Nanti, ketika vaksin sudah diproduksi, pemerintah dapat menghemat anggaran triliunan rupiah yang sebelumnya dialokasikan untuk keperluan impor vaksin,” ungkapnya.

Mulyanto mengungkapkan, Presiden Jokowi saat Pidato di Sidang MPR 2020 pekan lalu menyampaikan telah mengalokasikan anggaran Rp25 triliun dari APBN 2021 untuk pembelian vaksin dan alat kesehatan terkait penanganan Covid-19.

“Dengan asumsi harga vaksin sekitar 5-10 USD per dosis untuk 170 juta dosis. Dibanding total anggaran yang besar itu, alokasi untuk keperluan riset vaksin yang hanya Rp 5 miliar, sungguh seperti bumi dan langit,” sindirnya.

Mulyanto menilai, ketimbang membelanjakan anggaran untuk mengimpor vaksin, sebaiknya anggaran yang besar itu dipakai untuk membiayai riset vaksin Merah Putih ini secara lebih serius.

“Harapannya dengan anggaran yang cukup itu vaksin buatan anak bangsa ini dapat lebih cepat beredar ke pasar,” imbuhnya.

Mulyanto mengaku, dirinya prihatin dengan tantangan yang dihadapi para peneliti.

“Di satu sisi peneliti diminta bekerja cepat menemukan vaksin Covid-19 tapi di sisi lain pemerintah tidak menyediakan anggaram yang cukup,” sesalnya.

Mulyanto menerangkan, dalam salah satu kesempatan rapat dengar pendapat, Kepala LBM Eijkmen mengeluhkan anggaran penelitian yang dialokasikan sangat kecil, ibarat keran air, yang keluar hanya tetesan.

“Ini perlu mendapat perhatian Presiden Jokowi, agar kita tidak sekedar menjadi negara pengguna dan pembeli, tetapi mari kita dorong Indonesia menjadi negara pembuat. Kita bisa kalau kita mau,” pungkas legislator asal Dapil Banten 3 itu. LN-RON

banner 300x250

Related posts

banner 468x60