Polda Metro Jaya Berhasil Ungkap Pabrik Narkoba Lintas Provinsi

Jakarta, LiraNews – Penyidik Subdit I Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya berhasil mengungkap, sebuah pabrik narkoba liquid yang terdapat di Bali.

Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana menuturkan, pabrik lintas provinsi ini dikendalikan oleh seorang narapidana (napi) yang ada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bali.

“Pabrik narkoba liquid ini dikendalikan seorang napi di sebuah Lapas di Bali, berinisial K,” kata Nana kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Senin (29/06).

“Home industry liquid vape ini terungkap dari hasil pengembangan kasus tertangkapnya saudara FH pada tanggal 12 Juni kemarin di wilayah Cawang, Jakarta Timur dengan barang bukti 5 botol liquid narkotika. Kemudian dikembangkan dan mereka mendapatkan dari Provinsi Bali,” lanjut Nana.

Nana menambahkan, penyidik mengembangan kasus tersebut dan terungkap ada 5 tersangka dari beberapa lokasi yang ada di Pulau Dewata.

Polisi mencokok pelaku berinisial NK, pada Minggu (21/6) di pusat industri rumahan narkoba liquid dan tembakau sintetis yang berlokasi di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Bali.

“Dari kelima TKP di Bali berhasil disita barang bukti yaitu sebesar tembakau sintetis 24 kilogram. Liquid vape 7 liter dan serbuk cannabinoid atau bibit tembakau sintetis 500 gram. Dari keterangan tersangka NK yang mempunyai home industry, hasil produksi diedarkan melalui online oleh tersangka IK dan tersangka AAP,” jelas Nana.

Nana melanjutkan, dari penangkapan itu penyidik telah menangkap 7 tersangka berinisial AAN, IK, NIKA, AAP, ANA, AEP dan K.

Nana menerangkan, untuk bahan baku tersebut didapat dari China.

“Dalam memproduksi tembakau sintetis atau tembakau khusus berupa bibit tembakau dari tersangka K yang merupakan napi di lapas Bali, jadi barang tersebut diperoleh dari China,” jelas Nana.

Menurut Nana, bisnis ilegal sudah berlangsung sejak bulan Januari 2020 ini, dan dipasarkan di sejumlah wilayah Indonesia mulai dari Jakarta hingga Bali. Omzet Bisnis sindikat ini disebutnya mendapat keuntungan hingga miliaran rupiah.

“‘Omzetnya cukup besar. Sindikat ini sudah bermain antarprovinsi atau pun antarpulau. Mulai dari Jakarta, Jawa Barat, Sulawesi, Sumatera, dan Bali itu sendiri. Ini sudah miliaran rupiah omzet mereka. Barbuk hasil penjualan yang kita amankan sekitar 500 juta rupiah yang kita dapatkan dari tersangka,” pungkas mantan Kapolda NTB ini.

Akibatnya, para pelaku dijerat dengan Pasal 114 ayat 2 subsider 112 ayat 3 juncto 132 ayat 2 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman pidana maksimal 20 tahun penjara. LN-RON