Praktek Monopoli Penyebab Bisnis Industri Penerbangan Sudah Tidak Sehat

  • Whatsapp
banner 468x60

LiraNews, Jakarta – Bisnis industri penerbangan saat ini sudah tidak sehat. Hal ini ditandai kebijakan manajemen maskpai yang menaikkan harga tiker secara bersamaan, sehingga memicu penurunan penumpang pesawat.

Hal itu dikatkan Ekonom Senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J Rachbini dalam diskusi bersama wartawan di Jakarta, Minggu (16/6/2019). Menurutnya, selama arus mudik 2019, penurunan penumpang pesawat dibanding Lebaran 2018 sebanyak 27,37 persen atau 1,3 juta penumpang.

“Sekitar 20 tahun terakhir, kebijakan industri penerbangan dan pengelolaan persaingan sehat berjalan baik. Sekarang [ada] indikasi penyakit kartel monopoli kumat kembali seperti terlihat dari menkanisme harga harga yang disinkronisasi secara duopoli oleh pelaku usaha,” ujar Didik.

Ia menerangkan, industri penerbangan adalah industri yang melakukan praktek kartel sebelum tahun 2000 dengan tarif tiket yang waktu itu mahal.  Ketika Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melarang kartel, pelaku penerbangan bersaing sehat sejak 2000 hingga 2018 dengan harga tiket bersaing dan murah.

“Setelah tahun 2018 harga tiket menjadi mahal kembali dengan pelaku usaha duopoli. Indikasi praktik kartel, tapi dibiarkan berjalan terus, sehingga harga tiket mahal kembali,” ujar dia.

Selama 20 tahunt terakhir, lanjutnya, industri penerbangan bisa bersaing secara sehat karena dijaga serta dikelola dengan kebijakan yang baik.

Tapi sekarang kembali lagi ke periode sebelum tahun 2000, dimana praktek kartel berjalan justru didukung penuh dan diridhai oleh pemerintah dalam hal ini departemen perhubungan

“Masalahnya adalah praktik monopoli kartel tersebut, sehingga jika mengundang maskapai asing juga tidak akan menyelesaikan masalah,” pungkasnya. **

 

banner 300x250

Related posts

banner 468x60