PRESIDEN LSM LIRA: PAPUA DAN KEBERAGAMAN HARUS DIJAGA OLEH SEMUA ANAK BANGSA

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto: Presiden LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) HM. Jusuf Rizal
Bagikan:

Kuala Lumpur – Malaysia, LiraNews —- Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di usia 74 tahun akan terus diuji kekuatannya. Kasus Papua dan Papua Barat adalah contoh. Untuk itu Papua dan Keberagaman harus dijaga oleh semua anak bangsa dan tidak mudah terprovokasi oleh kelompok kepentingan yang akan terus mengganggu pemerintahan Jokowi.

“Masalah Papua dan Papua Barat menjadi contoh betapa masih mudahnya rakyat terprovokasi oleh kelompok kepentingan yang mau merusak persatuan, kesatuan, keberagaman dan NKRI. Hoax dan sara dengan dipicu medsos masih menjadi senjata efektif. Karena itu harus menjadi perhatian pemerintah kedepan,” tegas Presiden LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) HM. Jusuf Rizal melalui komunikasi WhatApp di Kuala Lumpur Malaysia.

Presiden LSM LIRA, Jusuf Rizal selama seminggu berada di Malaysia dalam rangka membangun Sinergitas NGO Asean, memperkuat kerjasama dengan NGO tertua di Malaysia GPMS (Gabungan Pelajar Malaysia Semenanjung), AGRA (Angkatan Gerak Minda Malaysia) serta meluncurkan Lira International Community (LIC) yang bergerak dalam pengembangan SDM bekerjasama jaringan internasional lainnya.

Menurut pria Ketua Presidium Relawan The President Center Jokowi-KH.Ma’ruf Amin itu, meletupnya masalah Papua dan Papua Barat ditunggangi kelompok kepentingan. Baik oleh kekecewaan pasca Pilpres, kelompok yang menginginkan Papua Merdeka maupun sentimen politik yang terus mengganggu pemerintahan Jokowi.

Ini makin besar ketika kelompok kepentingan menggunakan momentum peringatan 74 tahun Indonesia merdeka, dibantu oleh Hoax (berita bohong) dan medsos. Group-group WA turut berperan efektif memicu menjadi sara dan hujat menghujat. Padahal ini bermuara pada hal yang sederhana.

Untuk itu belajar dari pengalaman ini hendaknya pemerintah perlu menindak tegas kelompok atau siapapun yang memicu sara agar tidak menimbulkan konflik horisontal. Baik itu yang menggunakan isu agama, etnis, suku maupun golongan. Kita harus lebih dewasa dalam memaknai Bhinneka Tunggal Ika.

Selain itu kedepan hendaknya Pemerintahan Jokowi-KH.Ma’ruf Amin dengan Visi Indonesia 2019-2024 harus meningkatkan sosialisasi empat Pilar (UUD, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI) agar masyarakat makin memahami pentingnya persatuan dan kesatuan untuk Indonesia Maju, selain pemerataan pembangunan di Papua dan Papua Barat.

“Saya menilai lima tahun kedepan masalah sara, hoax, intoleran, radikalisme masih akan menjadi ujian bagi Jokowi. Sekarang saja Jokowi sudah banyak memperhatikan Papua, masih terus digoyang dengan isu Papua merdeka, apalagi tidak berbuat. NKRI harus menjadi pilihan harga mati,” tegas pria berdarah Madura-Batak itu. LN-RED

Wed Aug 21 , 2019
Jakarta, LiraNews — Ada Grand Design dan skenario besar Asing di bumi Papua dengan tujuan menguasai Sumber Daya Alam di Papua, Negara harus hadir di Papua karena ada indikasi anak bangsa mau di adu domba, Kementerian Kominfo harus memetakan potensi lokasi konflik dengan segera melakukan pembatasan koneksi internet dan medsos […]