Puasa Dan Kesehatan Psikis

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, LiraNews.com – Dari sisi psikis, orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan cenderung merasa tenang dan damai. Setiap orang berusaha untuk menahan amarahnya dan tingkat kejahatan pada bulan Ramadhan biasanya menurun. Umat Islam senantiasa mengingat nasehat Nabi Muhammad SAW, beliau mengatakan,

Jika sesesorang menghujatmu atau menyulut emosimu, katakanlah bahwa saya sedang berpuasa. (Al Hadits)  

Meningkatnya kualitas psikis inilah yang berkaitan dengan stabilitas gula darah yang lebih baik selama bulan Ramadhan, yang berpengaruh pada perubahan tingkah laku. Begitu juga dengan kebiasaan sholat malam. Sholat bukan hanya bermanfaat bagi penyerapan makanan, tapi juga untuk melepaskan energi. Setiap sholat dengan gerakan-gerakannya yang ringan seseorang melepaskan 10 ekstra kalori. Dengan kombinasi itu, sholat menjadi semacam olahraga yang cukup baik selama Ramadhan. Sama halnya dengan kebiasaan membaca Al-Qur’an, bukan hanya membuat hati dan pikiran tenang, tapi juga bisa menjaga hapalan Al-Qur’an. Puasa adalah bentuk peribadahan khusus, hubungannya hanya antara Allah SWT dan orang yang bersangkutan. Karena tidak satupun yang selain Allah SWT dan orang itu sendiri yang tahu apakah ia benar-benar berpuasa.

Peranan puasa kaitannya dengan psikologis adalah jalan untuk dapat mengendalikan diri. Pengendalian diri adalah salah satu syarat utama bagi jiwa yang sehat, dan manakala pengendalian diri seseorang terganggu maka akibatnya akan timbul berbagai reaksi kelainan, baik dalam alam fikir, alam perasaan maupun alam perilaku bersangkutan, dan juga berpengaruh pada kesehatan fisik. Reaksi yang ditimbulkannya tidak saja menimbulkan subyektif pada dirinya tetapi juga dapat mengganggu lingkungan serta orang lain di dekatnya. Islam mensyari’atkan puasa dengan maksud agar manusia dapat hidup yang lebih baik, khususnya untuk menjaga psikologis manusia agar tidak mudah terganggu. Puasa sebagai suatu cara yang terbaik untuk menguatkan jiwa dengan cara mengendalikan syahwat supaya tidak melampui batas.

Puasa secara psikologis dapat dipahami secara aksiologi, yaitu puasa bisa menjadi suatu cara untuk melatih kedisiplinan manusia. Puasa juga merupakan latihan ajaran moral yang paling tinggi dalam kehidupan manusia dan sekaligus bisa menjadi tahap pembelajaran, bahwa sesungguhnya manusia untuk mendapatkan suatu kenikmatan yang hakiki, maka sebelumnya harus diawali dengan berhadapan dengan suatu penderitaan dan berusaha dengan sungguh dapat melintasi cobaan tersebut, daripada tenggelam ke dalam apa yang tidak diperbolehkan kepadanya. Dari segi Psikis, diakui bahwa suatu kebiasaan dalam memenuhi kebutuhan akan mendorong orang untuk melakukannya pada waktu-waktu yang telah menjadi kebiasaannya itu. Sebabnya adalah karena pemenuhan kebutuhan tersebut mendatangkan kepuasan dan kelegaan. Apabila manusia mampu mengendalikan diri dalam mengehadapi kebutuhan-kebutuhan yang pokok tersebut, ia akan melakukan pelanggaran terhadap hak orang lain dan selanjutnya akan menyebabkan pertengkaran, perkelahian bahkan yang dapat membahayakan orang banyak.

Yang dituntut oleh puasa adalah kejujuran terhadap diri sendiri disamping jujur kepada orang lain. Karena puasa itu ibadah batin yang tidak biasa disaksikan oleh panca indera dengan ibadah lain yang hanya yang mengetahui ialah Allah SWT. Sifat jujur telah tertanam pada diri seseorang, maka dirinya akan merasa tentram, ia tidak akan dihinggapi oleh rasa takut atau rasa dosa, karena segala sesuatu jelas dan tidak ada yang palsu yang disembunyikan. Dalam ilmu kesehatan mental, terdapat suatu cara penyesuaian diri yang tidak sehat disebut pembelaan (sanicity), yaitu orang yang tidak berani mengaku kepada dirinya sendiri bahwa ia telah melanggar nilai-nilai yang dianutnya sendiri. Ibadah puasa mencegah terjadinya gangguan-gangguan Psikis. Nilai puasa itu benar-benar menjangkau lubuk yang terdalam pada diri manusia yang menunjang kepada pembinaan akhlak mulia. Pengobatan Psikis yang paling baik adalah menghilangkan penyebab terjadinya gangguan tersebut. Diantara penyebab gangguan Psikis yang banyak terdapat adalah rasa berdosa atau bersalah dan rasa dendam. Penderitaan yang amat berat adalah merasa berdosa, ia telah mencoba mohon ampun kepada Allah SWT, namun rasa berdosa dan penyesalan tidak hilang juga. Maka laksanakanlah puasa, terlebih lagi di bulan Ramadhan dengan tekun serta perbanyak ibadah, amal shaleh dan mohon ampun kepada Allah SWT.

Ahmad Hadariy, Sekjen DPP LIRA (Lumbung Informasi Rakyat)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60