Ray Rangkuti Bandingkan KPK Bongkar Kasus Lama Harun Masiku dengan Laporan Soal Dua Anak Jokowi

Ray Rangkuti (kiri), Faisal Basri (tengah) Prof Anthony (kanan).

Jakarta, LiraNews.com – Pengamat Politik sekaligus Direktur Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti melihat adanya fenomena bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini terkesan diatur oleh penguasa.

Bahkan, Ray menyebut, KPK kini dijadikan alat politik oleh penguasa untuk menekan lawan politiknya.

Read More
banner 300250

Dia pun menyinggung kasus Harun Masiku yang hingga kini belum terungkap keberadaannya. Menurut Ray, kasus Harun Masiku kini kembali dibuka ke permukaan setelah 4 tahun berjalan.

Tentunya, hal itu menyangkut Presiden Jokowi yang kini sudah tidak sejalan dengan PDI Perjuangan (PDIP). Dimana, dalam perkara ini, Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto justru menjadi target.

Hal itu disampaikan Ray sebagai pembicara dalam diskusi publik bertajuk ‘Membongkar Korupsi, Kolusi dan Nepotisme’ di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, Rabu (26/6/2024).

“Harun Masuki hilang 4 tahun, karena sudah pisah (Jokowi-PDIP), sekarang diubek-ubek lagi. Ketauan banget, politik tergantung kepada siapa Presidennya,” kata Ray.

“Pemberantasan korupsi sekarang, tergantung siapa Presidennya. KPK dilumpuhkan,” tegasnya.

Ray pun mencontohkan, bagaimana Ubedillah Badrun yang sempat melaporkan dua anak putra Presiden Jokowi,Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep, ke KPK terkait dugaan KKN pada tahun 2022, lalu.

Namun, kata Ray, laporan Ubedillah langsung ditolak oleh KPK dalam hitungan minggu.

“Kasusnya Ubet (Ubedillah Badrun), tuh, Ubet melaporkan dugaan adanya tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh anak-anak Presiden. Begitu dimasukkan ke KPK, baru hitungan minggu atau bulan, ‘Bet, saya nggak tahu’, Sudah ada jawaban bahwa laporan Ubet itu ditolak,” ungkap Ray.

Aktivis 98 ini juga menyoroti soal indeks penegakan hukum dan reformasi yang merosot di era pemerintahan presiden Jokowi.

Dia menilai, kemerosotan hampir di semua indeks prestasi itu dilakukan Jokowi dengan dua hal. Yakni bansos dan praktik politik nepotisme.

“Coba sekarang itu, turun semua peringkatnya.
Indeks demokrasi, turun semua. Kacau, habis. Diselesaikan oleh Jokowi dengan 2 hal saja.!Pertama adalah bansos, yang kedua adalah memberi kekuasaan kepada mereka yang imannya lemah,” pungkas Ray.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *