RMI PBNU Targetkan Pemetaan SDM NU yang lebih Konkret

Gravatar Image
  • Whatsapp

Jakarta, LiraNews – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) menargetkan adanya pemetaan Sumber Daya Manusia (SDM) NU yang lebih konkret untuk menyambut 1 abad NU beberapa tahun ke depan.

Hal ini disampaikan oleh Ketua RMI PBNU Abdul Ghofar Rozin dalam puncak dari rangkaian perayaan Hari Santri Nasional (HSN) 2021 pada Jumat (22/10) malam.

Read More
banner 300250

Diselenggarakannya seminar internasional dari diaspora santri yang sudah mengajar di luar negeri dua hari lalu (20-21/10), kata Gus Rozin sapaan akrabnya, adalah sebentuk upaya untuk mencapai target tersebut.

Menurut Guz Rozin, para santri harus mendapatkan suntikan semangat untuk belajar lebih banyak. Dengan diadakannya seminar internasional tersebut, harapannya kebutuhan santri ini terpenuhi dengan baik.

Di sisi lain, santri juga membutuhkan suntikan gagasan setiap tahunnya. Dan karena inilah tema yang digunakan untuk puncak acara HSN 2021 adalah Amanat Hari Santri dan 1000 Khotmil Quran.

“Amanat Hari Santri ini tidak lain adalah pidato kebudayaan yang sudah kami lakukan setiap tahunnya, kecuali tahun kemarin karena pandemi,” kata Gus Rozin dalam acara yang dihadiri oleh Rais Amm PBNU Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj, dan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah ini.

“Dengan adanya pidato kebudayaan seperti ini, artinya setiap tahun kita mendapatkan suntikan gagasan baru, penyegaran ide, sehingga target pemetaan SDM pelan-pelan bisa kita capai untuk menyambut 1 abad NU,” imbuhnya.

Dalam acara yang dihadiri pula oleh perwakilan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) ini, Gus Rozin juga mengungkapkan terima kasih kepada Menaker Ida Fauziyah atas beasiswa yang sudah dipersiapkan Kemnaker khusus untuk santri.

“Selain ada LPDP Santri yang ditutup hari ini, ada skema beasiswa lagi untuk santri dari Kemnaker,” ujarnya.

Akhirnya, dari adanya kesempatan beasiswa tersebut, Gus Rozin optimis bahwa ke depan santri bisa berada di tengah atau menjadi mainstream.

“Saat ini, kita belum di tengah, tapi agak tengah. Lama-lama santri pasti bisa menjadi mainstream dan berpotensi besar menjadi agen perubahan untuk Indonesia,” jelas Gus Rozin.

Related posts