Rokhmin Dahuri: Kapitalisme Telah Mengancam Kelestarian Ekosistem Peradaban Manusia

  • Whatsapp
banner 468x60

LiraNews, Jeju Island — Untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), yakni dunia yg sejahtera (prosperous), aman (peaceful), dan berkelanjutan (sustaianable), maka kita umat manusia harus memperbaiki cara-cara kita membangun perkenomian dan cara-cara kita hidup di planet bumi ini, baik pada tataran paradigmatik maupun tataran praksis (teknis operasional).

Hal itu dikatakan Prof. Rokhmin Dahuri saat menyampaikan konsep “The Application of Industry 4.0 – Based Technologies and Circular Economy in Developing a Prosperous, Peaceful and Sustainable World: a Lesson Learned from Indonesia”, dalam Leaders Round Table Discussion pd 2019 Sustainable Development Jeju International Conference di Hotel Maison Glad, Jeju Island, South Korea, Selasa (18/6/2019).

Sebab, jelasnya, kapitalisme yg merupakan satu-satunya paradigma (sistem) kehidupan manusia yg dianut oleh sebagian besar bangsa-bangsa di dunia sejak tahun 1800-an telah menimbulkan sejumlah permasalahan yang telah mengancam kelestarian (sustainability) ekosistem planet bumi ini dan juga mengancam eksistensi peradaban manusia itu sendiri.

“Memang, Kapitalisme telah mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dunia (Gross World Product) yg sangat signifikan, rata-rata 3,5 persen per tahun sejak Revolusi Indsutri Pertama pada 1750 sampai 2015. Pada 1750 GWP hanya US$ 0,45 trilyun, pada 2015 menjadi US$ 90, melonjak 200 kali lipat. Kemajuan IPTEK yg didorong oleh kerakusan dan rasa ingin tahu mahzab Kapitalisme juga telah membuat kehidupan manusia lebih sehat, mudah, cepat dan nyaman,” papar Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Rokhmin melanjutkan, gelombang kemajuan IPTEK yang terkelompokan ke dalam 4 era revolusi industri juga telah membuat ekonomi dunia semakin produktif dan efisien.

Namun, Kapitalisme juga telah menimbulkan permasalahan sosial-ekonomi, lingkugan, dan sosial-budaya yanh sangat kompleks dan serius.

Di bidang ekonomi, sampai skrg masih sekitar 1 milyar warga dunia hidup dlm kemiskinan absolut (ekstrem poverty) dengan pengeluaran kurang dari US$ 1,25 per hari. Hampir 3 milyar orang masih hidup miskin dg pengeluaran kurang dari US$ 2 per hari.

“Yang lebih mencemaskan, ketimpangan ekonomi baik dlm satu negara maupun antar negara semakin melebar,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong.

Di bidang lingkungan, terangnya, pencemaran, pengikisan biodiversity dan kepunahan spesies, perusakan fisik ekosistem alam, dan pemanasan global telah mencapai tingkat yg mengancam kelestarian bumi dan kehidupan manusia.

Di bidang sosial- budaya, kehidupan manusia terutama di daerah perkotaan semakin stress, narkoba, HIV/AIDS, frustasi, perampokan, bunuh diri, perzinahan, kemunafikan, hoax, dan penyakit sosial lainnya merebak masif. Diatrust society dan post truth mendominasi kehidupan masyarakat.

Maka, paradigma Kapitalisme mesti diganti dg paradigma kehidupan yg menuntun manusia bahwa manusia itu bukan hanya terdiri dari fisik (lahiriah), tetapi juga rohani, ruh, dan jiwa. Karenanya, kebahagian tidak mungkin bisa dipuaskan oleh harta, tahta, popularitas dan hal2 duniawi lainnya.

“Tapi, mesti dg kedamaian hati, jiwa. Bhw sumber daya alam dan kekayaan itu bukan milik manusia, tetapi hanya titipan dari Tuhan. Yg diperoleh melalui ikhtiar dan doa manusia. Maka, kekayaan tidak boleh terkonsentrasi oleh segelintir orang. Bhw kehidupan di dunia ini hanya sementara, kehidupan yg hakiki dan abadi adalah di akhirat,” pungkasnya.

Pembicara lain dalam leaders round table: Dr. Valerie Cliff (Regional Director for Asia and the Pacific Region, UNDP), Dr. Anna Messinis (Vice President of Municipality of Venice, Italy), Mr. Song Han-Jun (President of Association of Metropolitan and Provincial Council Chairs, South Korea), Dr. Lien Sheng (Deputy Secretary General of Peoples Government of Hainan Province, China), Prof. Dr. Vijay Jagannathan (Secretary General of CityNet), Dr. Jatopong Kaewsai (Director of Phuket Foreign Affairs, Thailand), dan Dr. Sarwat Chowdhury (Policy Specialist, UNDP).

Dihadiri oleh sekitar 500 peserta dari 25 negara. Konferensi dibuka oleh Dr. Won Heeryong, Governor of Jeju Special Self-Governing Province, Republic of Korea. **

banner 300x250

Related posts

banner 468x60