Rokhmin Dahuri Mengingatkan Wisudawan Unnes Harus Mengasah Jiwa Kewirausahaan

  • Whatsapp
banner 468x60

LiraNews, Semarang – para wisudawan Unnes  harus meningkatkan kapasitasnya  dalam hal berpikir kritis (critical thinking), kemampuan analisis (analytical thinking), kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving) baik yang sederhana maupun yang kompleks, kemampuan bekerjasama (teamwork), dan kemapuan-kemampuan lain yang tidak bisa dikerjakan oleh robot, mesin otomatis, dan jenis-jenis teknologi lain di era Industri 4.0 ini.

Hal itu dikatakan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS ketika menyampaikan Pidato Inspiratif “Meningkatkan Kompetensi, Integritas dan Keberhasilan Lulusan UNNES di Era Revolusi Industri 4.0” pada Wisuda Doktor, Magister, Sarjana, dan Diploma Universitas Negeri Semarang (Unnes) priode II tahun 2019 di  Gedung Prof Wuryanto Auditorium Unnes, Semarang, Kamis (27/6/2019). Acara wisuda itu dipimpin langsung oleh Rektor Unnes, Prof Dr Fathur Rokhman, MHum.

“Kemampuan-kemampuan lain itu, biasa disebut sebagai soft skill atau life skills (Keterampilan atau keahlian hidup). Yakni, kemampuan untuk membuat mitra kerja kita, mitra bisnis kita, atasan kita, dan orang lain senang serta merasa puas bekerjasama atau berteman dengan kita,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Gotong Royong itu.

Soft skills, paparnya, mencakup kemampuan seseorang untuk memelihara dan memompa motivasi, semangat hidup untuk senantiasa menjadi yang terbaik (to be the best), menghasilkan karya dan prestasi untuk kemaslahatan bersama, dan menolong serta berbuat baik kepada sesama insan maupun lingkungan hidup (natural ecosystems).

Rokhmin mengingatkan, para wisudawan Unnes  juga mesti mengasah jiwa kewirausahaan (entreprenuership), yaitu suatu kemampuan untuk merubah sesuatu yang tidak atau kurang ada gunanya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, bernilai tambah, dan bernilai ekonomi.

“Ciri-ciri utama seorang entrepreneur adalah kreatif, inovatif, bisa membaca dan menciptakan peluang, berani ambil resiko (risk taker) yang terukur (calculated risks), pantang menyerah, disiplin, tekun, berorientasi pada hasil (result-oriented), dan sabar,” katanya.

Menurutnya, di era Industri 4.0 abad-21 ini yang bercirikan VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, and Ambiguous)) atau era disrupsi, hampir semua aspek kehidupan di dunia ini sangat tidak menentu dan tidak bisa diperkirakan sebelumnya (unpredictable). Contohnya, perusahaan handphone terbesar di dunia pada 1990-an sampai awal tahun 2000-an, sejak 2007 kalah bersaing oleh Microsoft Co.  Nokia tidak melakukan kesalahan apa pun, tetapi kemudian perusahaannya hilang, produknya kalah, tergusur, tak lagi diminati pasar.  Akhirnya, Nokia dijual ke Microsoft Co.

Di tanah air, Blue Bird dan perusahaan-perusahaan taxi raksasa lainnya tersisih setelah berkembangnya taksi berbasis aplikasi online, seperti GoJek dan Grab. “Itulah sustainaing innovations (melakukan inovasi secara berkelanjutan) yang dulu dianjurkan para ahli sebagai resep mujarab untuk seseorang, organisasi, atau negara menggapai keberhasilan,” jelasnya.

Namun, kata Rokhmin,  sejak lahirnya era Industri 4.0 yang bercirikan perubahan yang super cepat di semua aspek kehidupan manusia, yang disebabkan oleh kemampuan teknologi komputer (computing power) yang kian meningkat secara eksponensial, Cloud Computing, Internet of Things, Artificial Intelligence, smartphones, dan sosial media (Roweles and Brown, 2017); maka resep sukses itu (sustaining innovations) tidaklah cukup.

“Bila, kehidupan duniawi kita ingin sukses, maka mulai sekarang kita harus membekali diri dengan kemampuan untuk melakukan ”disruptive innovations”.  Yakni, kemampuan untuk dapat mengantisipasi setiap perubahan yang bakal terjadi secara super cepat, kemudian bagaimana memanfaatkan dan mengelola perubahan itu bagi keberhasilan hidup kita, kemaslahatan bersama, kemajuan dan kesejahteraan bangsa kita, dan untuk dunia yang lebih baik (for a better world),” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rokhmin juga mengingatkan, jika ingin hidup sukses dan bahagia bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak menjadi penghuni surga serta terhindar dari semua siksa neraka.

“Maka, pertama saudara-saudara harus beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME menurut agama kita masing-masing.  Kedua,  memiliki kompetensi IPTEK sesuai dengan bidang ilmu atau program studi yang saudara pelajari.  Ketiga, harus sehat, cakap, terampil, kreatif, dan mandiri. Keempat, harus berakhlak mulia dan berbudaya luhur,” imbuh Rokhmin. **

banner 300x250

Related posts

banner 468x60