Sri Mulyani Jangan Bebani Rakyat Dengan Hutang

Jakarta, LiraNews.com – Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa rakyat Indonesia setiap kepala menanggung hutang 13 juta rupiah bukanlah pernyataan yang pantas dikeluarkan. Kami menilai hutang yang terus bertambah bukan menjadi tanggungan rakyat namun kewajiban pemerintah sebagai pihak yang diberi otoritas oleh rakyat.

Hutang luar negeri Indonesia diperparah lagi dengan hutang swasta yang harus ditanggung pemerintah sebagaimana yang terjadi pada perusahaan penerbangan Lion. Gerakan Pribumi Indonesia (GEPRINDO) menilai Sri Mulyani tak memiliki rasa empati, pernyataannya seolah rakyat Indonesia yang berhutang padahal hutang yang bertambah membuktikan pemerintahan saat ini sudah gagal.

“Harusnya pemerintah membebankan hutang tersebut pada Taipan-Taipan yang selama ini merusak ekonomi Indonesia,” ujar Presiden GEPRINDO, Bastian P. Simanjutak dalam keterangannya, Rabu (26/4/2017).

Pada Tahun 2016 sebagaimana kita ketahui bahwa PT. Lion Mentari Airlines telah mendapatkan utang dalam bentuk 230 pesawat dari Boeing Co Amerika Serikat senilai USD 22.4 ‎miliar dan 234 Airbus jet dari Eropa senilai USD 24 miliar dolar.

Semua hutang tersebut, katanya, ditanggung pemerintah dan Sri Mulyani menyatakan rakyat Indonesia yang berhutang.

Menurut Bastian, itu pernyataan pengecut dan tak punya empati. Itu baru satu contoh kasus, masih banyak lagi hutang-hutang swasta yang ditanggung pemerintah dan menjadi aneh ketika kemudian hutang tersebut dibebankan kepada rakyat.

Pernyataan Sri Mulyani seolah ingin mengatakan, Taipan yang makan nangka Pribumi yang kena getahnya. Menurut Bastian, harusnya pemerintah berani mengetatkan hutang swasta dengan regulasi yang jelas, pemerintah jangan kalah oleh swasta dan malah menjadikan rakyat sebagai tumbalnya.

“Kalau tidak becus urus negara jangan rakyat yang disalahkan, rakyat sudah cukup menderita dengan beban ekonomi selama ini,” pungkasnya. LN-JMP