Taubat Para Jihadis Isis

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:

LiraNews.Com

Bagikan:

LiraNews, Jakarta — Warga Negara Indonesia yang bergabung dalam kelompok ISIS kepingin mudik alias balik ke Indonesia. Kini mereka masih menetap di wilayah konflik Suriah. Sebagian dari mereka tersebar di sejumlah tempat pengungsian. Kementerian Luar Negeri telah mempersiapkan segala sesuatunya. Tapi tidak mudah bagi para jihadis ini kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Mereka akan diseleksi dengan ketat.

Sampai detik ini, pemerintah belum mengizinkan mereka untuk kembali. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko bilang masih perlu berembug dengan banyak pihak untuk menentukan sikap atas persoalan tersebut.

“Harus dirapatkan pasti dari berbagai sisi. Dari sisi Kemenko Polhukam, dari sisi ketenagakerjaan, dari sisi kementerian sosial dan seterusnya. Belum dirumuskan,” jelasnya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (24/6).

Maknanya, untuk memutuskan apakah kaum radikalis ini boleh atau tidak pulang kampung mesti dibahas secara khusus di tingkat Kemenko Polhukam yang melibatkan jajaran Menko Polhukam, Menko Kesra, hingga kementerian tenaga kerja. “Ini bukan memindahkan barang, tapi memindahkan persoalan,” tegas Moeldoko.

Hal senada dinyatakan Dirjen Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Hamli. “Kami akan kerja sama dengan berbagai pihak, terutama Kemensos, karena yang punya tempat itu Kemensos, yang nanti akan menampung, kemudian kementerian agama, kemudian akademisi,” kata Hamli, Kamis (20/6).

Hamli memprediksi para simpatisan ISIS yang kembali ke masyarakat bakal mengalami marginalisasi. BNPT pun bekerja sama dengan pihak berwajib di tempat domisili simpatisan ISIS berasal.  Dari kerja sama itu, para simpatisan ISIS dapat mandiri dan bertahan di kehidupan selanjutnya.

Sejumlah pihak tidak keberatan mereka kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dengan syarat penting: Mereka harus meninggalkan ideologi radikal yang mendorong mereka ke Suriah dan Irak. Penyaringan akan dilakukan di Suriah sebelum mereka diizinkan pulang.

Sikap “waspada” pemerintah terhadap eks pejuang ISIS wajar adanya. Semua ini adalah menyangkut keamanan dalam negeri. Sejumlah negara Barat seperti Prancis, Inggris, dan Belanda menolak warganya kembali ke negerinya juga dengan dalih risiko keamanan. Hanya saja, negara lainnya macam Turki, Kosovo, Rusia, dan negara-negara Asia Tengah di Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan, telah menerima mereka kembali.

Menyeberang ke Afghanistan

Lalu, sejatinya berapa orang WNI yang angkat senjata di negeri orang itu?  BNPT tidak memiliki data soal itu. Kementerian Luar Negeri juga tidak memiliki catatan orang Indonesia yang diadili di Irak. Asal tahu saja, pengadilan ini telah menjatuhkan hukuman mati atau hukuman penjara berat kepada lebih dari 500 pejuang ISIS asing.

Laporan intelijen menunjukkan bahwa sebanyak 500 orang Indonesia mungkin masih berada di Suriah. Mereka yang tidak ingin kembali ke Indonesia menyeberang ke Afghanistan. Di sana mereka bergabung dengan ISIS di Khorasan (ISIS-K) yang sedang berkembang.

Kini, setidaknya ada 1.000 militan asing yang ditahan oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di kamp pengungsi Al Hol dekat perbatasan Suriah-Turki. Para tawanan itu dibawa dari kota Baghouz, Suriah timur, tempat ISIS melakukan perlawanan terakhir terhadap SDF pimpinan Kurdi pada Maret lalu. Ada perkiraan setidaknya 200 wanita dan anak-anak Indonesia berada kamp pengungsian itu.

Data lainnya menyebut, lebih dari 120 militan Indonesia tewas dalam konflik di seluruh Irak dan Suriah sejak tahun 2014. Lalu, Direktur Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC) yang berpusat di Jakarta, Sidney Jones, menduga ada 200 WNI lain—tidak semuanya pejuang—mendekam di penjara Kurdi.

Salah satu tahanan penting adalah Munawar Kholil. Pria 32 tahun ini bertindak sebagai perekrut utama sebelum ia pergi ke Suriah seorang diri pada tahun 2012. Munawar ditahan bersama dengan para pemimpin ISIS lainnya di Penjara Al-Malikiyah di daerah perbatasan Suriah, Turki, dan Irak.

Program Deradikalisasi

Kepala BNPT, Suhardi Alius, mengatakan pihaknya tidak keberatan dengan anggota ISIS Indonesia yang dituduh melakukan tindakan teroris tertentu untuk diadili di pengadilan internasional. Sedangkan mereka yang kembali, keamanan tetap menjadi prioritas nomor satu. Alius menganggap eks anggota ISIS Indonesia terlibat dalam pengeboman bunuh diri di Surabaya tahun lalu, yang merenggut 28 nyawa.

 “Kita harus memperhatikan warga negara Indonesia, tetapi kita harus melindungi Indonesia secara keseluruhan. Jika mereka (yang kembali) dapat masuk begitu saja dan kami disusupi kembali, itu akan menjadi bencana,” ujarnya.

Pastinya, BNPT memang perlu mengeluarkan lebih banyak lagi dana untuk program de-radikalisasi bagi mereka. BNPT perlu mendukung mereka selama dua atau tiga tahun. Soalnya,  mereka tidak punya uang dan tidak punya pekerjaan.

Soal itu BNPT sudah berpengalaman. Pada 2017, Indonesia telah memulangkan 17 WNI yang pernah bergabung dengan ISIS di Suriah. Mereka saat ini dilaporkan masih berada dalam pengawasan BNPT dan otoritas keamanan lainnya. BNPT sudah melakukan program deradikalisasi seperti memberikan paham kebangsaan, agama, serta kemandirian agar mereka bisa bertahan hidup.

Melalui program deradikalisasi ini, mereka akan dikumpulkan menjadi satu terlebih dahulu kemudian tahap selanjutnya akan dipilah-pilah sesuai dengan hasil identifikasi sejauh mana mereka terpapar radikalisme.

Langkah berikutnya BNPT akan melakukan edukasi, rehabilitasi dan selanjutnya dikembalikan ke tempat domisili masing-masing, berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah. “Itu tahun kemarin sudah kita lakukan. Pemerintah daerah menyambut baik atas koordinasi dan sinergitas itu. Mereka akhirnya membantu. Jadi kita tidak bekerja sendiri,” tutur Hamli.

Dilebih-lebihkan

Konflik di Suriah, menurut IPAC, telah menarik bagi para jihadis Indonesia daripada perang asing lain. Banyak dalih untuk itu: mulai dari penderitaan muslim Sunni di sana, prospek untuk memulihkan kekhalifahan Islam, hingga fakta Suriah terkait langsung dengan prediksi dalam eskatologi Islam bahwa pertempuran terakhir di akhir zaman akan terjadi di Syam. Syam adalah  wilayah yang kadang-kadang disebut Suriah atau Levant, yang mencakup Suriah, Yordania, Lebanon, Palestina, dan Israel.

Ada yang menyebut sampai Juli 2015, ada sekitar 700 pejuang asal Indonesia yang ikut perang di Irak dan Suriah. Hanya saja, banyak pihak menganggap angka itu dilebih-lebihkan. Sampai kini belum ada data resmi yang bisa dipegang tentang jumlah mereka.

Pejuang ISIS asal Indonesia tidaklah seberapa jika dibanding negara lain. ISIS kurang begitu menarik bagi para jihadis Indonesia. Bandingkan saja dengan negara lain. Perkiraan resmi menyebut, Prancis tercatat 1.700 orang, Rusia, 2.400 orang, Amerika Serikat 150 orang, dan Tunisia 6.000 orang.

Menurut penelitian USAID, di Prancis, 18 orang per satu juta warga muslim diperkirakan berperang di Suriah dan Irak. Di Tunisia, angka itu mencapai 280. Sedangkan di Indonesia, hanya beberapa orang saja.

Jones berpendapat Indonesia adalah negara yang tidak memiliki pemerintahan yang represif, tidak berada di bawah pendudukan, stabil secara politik, sehingga tidak ada kerusuhan sosial atau konflik, dan kaum muslim bukanlah minoritas yang dianiaya. “Jadi ketika Anda menggabungkan semua faktor itu, tidak terlalu mengejutkan jika hanya sebagian kecil dari populasi aktivis yang berangkat ke Suriah,” ujarnya.

Memang, negara-negara yang memiliki jumlah terbanyak pejuang asing yang bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak, baik secara absolut atau berdasarkan per kapita, cenderung bersifat represif secara politik (Arab Saudi, 2.500 pejuang), tidak stabil secara politis (Tunisia, 6.000 pejuang), diskriminatif terhadap minoritas muslim (Rusia, 2.400 pejuang), atau kombinasi dari itu.

Ketidakstabilan negara menjadi alat rekrutmen terbaik yang pernah dimiliki kelompok radikal. Mereka tidak bisa mendapat level ketertarikan semacam itu, karena tidak ada pendorong lokal untuk radikalisasi dalam demokrasi muda.

Kebebasan berekspresi Indonesia menciptakan ruang di mana komunitas radikal dapat melakukan advokasi untuk hukum Islam dan negara Islam tanpa merasa perlu untuk mengambil tindakan kekerasan dalam mengejar tujuan-tujuan tersebut.

Nah, kini mereka yang sudah telanjur angkat senjata di negeri orang mulai insaf dan ingin bertaubat. Biarkan mereka pulang dengan teriring doa: Semoga mereka mendapatkan jalan yang lurus. Amin

Miftah H. Yusufpati, Wartawan Senior

 

Bagikan:
Komentari Melalui Facebook
Tue Jul 2 , 2019
LiraNews.Com