Terkait Keraton Agung Sejagad, FWJ Temukan Kejanggalan Penangkapan Totok dan Fanny

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, LiraNews – Ketua Forum Wartawan Jakarta (FWJ) Mustofa Hadi karya atau yang biasa dipanggil Opan dalam konferensi persnya mengulik terkait penahanan ‘terduga pasal 14 UU tahun 1946 dan pasal 378 KUHP yang dikenakan kepada Totok Santoso dan Fanny Aminandi saat kirab budaya Keraton Agung Sejagad (KAS) di Purworejo pada bulan Januari lalu.

“Bahwa ia sudah melakukan investigasi (mencari rekam jejak) terkait Keraton Agung Sejagad (KAS) yang telah membuat heboh dunia netizen saat itu (Januari 2020). Dalam temuannya menurutnya ada beberapa kejanggalan dimana pasal awal  yang disangkakan dan terus bergulir hingga di pengadilan negeri kabupaten Purworejo,” kata Opan di Gedung Dewan Pers lantai 3, jalan kebon sirih, no. 32/34, Jakarta Pusat, Jumat, (7/8/2020).

Ketika kirab itu diselenggarakan pada tanggal 10 Januari 2020, jelasnya, dalam Dokumentasi yang saya temukan ada beberapa penjagaan dari kepolisian maupun pihak TNI, hingga acara tersebut selesai pun tak terlihat kegaduhan ataupun keonaran, namun keesokan harinya muncul pemberitaan di salah satu media online yang memberitakan bahwa kegiatan tersebut tak berijin.

“Munculnya berita tersebut sampai kepada pihak penyelenggara, sehingga pihak penyelenggara berniat memanggil, dari pihak media tersebut untuk melakukan konfrontir untuk menjelaskan hal yang sebenarnya dalam agenda kirab tersebut, tapi bukan upaya menyajikan berita penjelasan dari pihak penyelenggara, ini kok malah ada upaya dari wartawan media tersebut menghubungi kepolisian sehingga terjadinya penangkapan oleh pihak kepolisian polres Purworejo pada tanggal (14/1), dengan tuduhan membuat keonaran,” tutur Opan.

Opan pun menemukan kejanggalan dalam penerapan pasal yang disangkakan kepada Totok Santoso dan Fanny Aminandia, “ini ada warga yang perduli pelestarian budaya dan berjalan dengan lancar tanpa ada keonaran kok malah dipidanakan?, Mohon kepada kepolisian janganlah mudah menerapkan pasal ( memasukkan pasal ngasal) ini sangat bahaya bila terus terjadi, faktanya netizen heboh itu kan karena adanya pemberitaan yang tidak berimbang, harusnya pihak kepolisian melakukan konfortir terlebih dahulu bukan malah tambah membuat heboh masyarakat, ” tutur Opan.

Lemens Kodongan selaku dewan penasehat di FWJ juga sangat menyayangkan adanya kasus ini, polisi itukan harusnya Promoter (Profesional, Modern dan terpercaya) ini janganlah hanya sekedar slogan tapi harus diterapkan. Beri contoh kepada masyarakat bukan malah membuat hukum di negeri ini menjadi tidak karuan, “pungkasnya.

Opan melalui FWJ berharap semoga Totok dan Fanny mendapatkan keadilan di pengadilan negeri Purworejo yang sampai saat ini masih berjalan, “semoga masih ada keadilan bagi warga masyarakat yang memang belum tentu bersalah, kasian keluarga mereka, dengan hebohnya pemberitaan tentang mereka hingga membuat shock dan trauma terutama dari anak-anak Fanny, ” tutup Opan. LN-BBG

banner 300x250

Related posts

banner 468x60