Tolak Revisi UU KPK, Pegawai KPK Berbusana Hitam Bagikan 1000 Bunga di CFD

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Jakarta, LiraNews – Kegiatan Car Free Day (CFD) di Jakarta diwarnai aksi unjuk rasa. Kali ini aksi dilakukan oleh sejumlah pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menolak revisi UU KPK.

Para pegawai KPK itu berunjuk rasa di area CFD Bundaran HI jalan Jenderal Sudirman Jakarta, Minggu (8/9/2019) pada pagi ini.

Mengenakan busana serba hitam, mereka membawa bunga dan selebaran kertas bertulisan ‘ Tolong’ dan ‘Jokowi Setuju Revisi UU KPK=KPK Mati’.

Mereka juga membawa bunga untuk dibagikan kepada masyarakat.

Salah satu pegawai KPK, Heni Mustika menuturkan, bersama rekan-rekannya, ia akan membagikan sebanyak 1000 tangkai bunga kepada masyarakat yang ada di area CFD.

“Kita seluruh pegawai KPK akan membagikan lebih dari seribu tangkai bunga kepada masyarakat. Nanti secara simbolik kita akan bergerak ke gedung KPK dan disambut oleh pimpinan. Jadi kita akan memasang kain hitam di sana,”

Terlihat di aksi tersebut, penyidik Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo, hingga pegawai KPK.

Heni menegaskan, pihaknya meminta agar Presiden menolak revisi UU KPK, revisi UU KPK pun harus dilawan.

“Kita pesan kepada Presiden Joko Widodo untuk besok tidak merevisi undang-undang KPK dan tidak tanda tangan,” kata Heni di lokasi.

“Bahaya karena KPK benar-benar mati kalau besok ditanda tangan oleh Presiden Joko Widodo,” sambungnya.

Sebelumnya, pada pekan lalu, pegawai KPK menggelar aksi damai menolak Revisi Undang-undang KPK dan Calon Pimpinan bermasalah di Di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (30/8/2019).

Mereka membawa spanduk bertuliskan: KPK Dilahirkan oleh Mega, Mati Di Tangan Jokowi”, “Pak Jokowi Dimana?”, “Tolak Revisi UU KPK”. “Makin Sempurna Pelemahan KPK:, #Save KPK #Save Indonesia.

Henny Mustika Sari dalam orasinya menyebut berbagai upaya pelemahan telah dialami lembaga antirasuah di setiap era presiden.

Henny menegaskan jangan sampai di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo sejarah mencatat matinya KPK.

“Presiden Abdurahman Wahid merancang KPK, Presiden Megawati Soekarno Putri melahirkan KPK, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melindungi KPK, dan jangan sampai sejarah mencatat KPK mati pada masa Presiden Joko Widodo,” cetus Henny saat berorasi di lobi Gedung KPK, Jakarta, Jumat (6/9).

Selain aksi dari pegawai, sebanyak tujuh karangan bunga terpampang di depan Gedung KPK berisi sindiran dan kata-kata penyemangat pemberantasan korupsi. “Pak Presiden masih semangat memberantas korupsi?” seperti tertulis dalam salah satu karangan bunga di depaj Gedung KPK.

Dalam aksi yang diikuti ratusan pegawai KPK pengunjuk rasa mengenakan pakaian serba hitam. Warna itu merupakan simbol duka atas kondisi KPK yang berada di ujung tanduk lantaran revisi UU KPK. Mereka menyebutkan, KPK lahir bukan untuk pegawai KPK, tapi untuk memberantas masalah kemiskinan, masalah ekonomi dan masalah bangsa Indonesia.

Para pegawai mengajak masyarakat Indonesia bersama pegawai KPK dapat melakukan perlawanan terhadap orang-orang yang ingin melemahkan kinerja pemberantasan korupsi. Karena keberadaan KPK untuk memulihkan ekonomi masyarakat Indonesia. “Siapapun yang sengaja melemahkan KPK kita semua maju dan melawan. Kita lawan. Lawan!,” ujar seorang pegawai dalam orasinya.

Jakarta, – Kegiatan Car Free Day (CFD) di Jakarta diwarnai aksi unjuk rasa. Kali ini aksi dilakukan oleh sejumlah pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menolak revisi UU KPK.

Para pegawai KPK itu berunjuk rasa di area CFD Bundaran HI jalan Jenderal Sudirman Jakarta, Minggu (8/9) pada pagi ini.

Mengenakan busana serba hitam, mereka membawa bunga dan selebaran kertas bertulisan ‘ Tolong’ dan ‘Jokowi Setuju Revisi UU KPK=KPK Mati’.

Mereka juga membawa bunga untuk dibagikan kepada masyarakat.

Salah satu pegawai KPK, Heni Mustika menuturkan, bersama rekan-rekannya, ia akan membagikan sebanyak 1000 tangkai bunga kepada masyarakat yang ada di area CFD.

“Kita seluruh pegawai KPK akan membagikan lebih dari seribu tangkai bunga kepada masyarakat. Nanti secara simbolik kita akan bergerak ke gedung KPK dan disambut oleh pimpinan. Jadi kita akan memasang kain hitam di sana,”

Terlihat di aksi tersebut, penyidik Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo, hingga pegawai KPK.

Heni menegaskan, pihaknya meminta agar Presiden menolak revisi UU KPK, revisi UU KPK pun harus dilawan.

“Kita pesan kepada Presiden Joko Widodo untuk besok tidak merevisi undang-undang KPK dan tidak tanda tangan,” kata Heni di lokasi.

“Bahaya karena KPK benar-benar mati kalau besok ditanda tangan oleh Presiden Joko Widodo,” sambungnya.

Sebelumnya, pada pekan lalu, pegawai KPK menggelar aksi damai menolak Revisi Undang-undang KPK dan Calon Pimpinan bermasalah di Di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (30/8/2019).

Mereka membawa spanduk bertuliskan: KPK Dilahirkan oleh Mega, Mati Di Tangan Jokowi”, “Pak Jokowi Dimana?”, “Tolak Revisi UU KPK”. “Makin Sempurna Pelemahan KPK:, #Save KPK #Save Indonesia.

Henny Mustika Sari dalam orasinya menyebut berbagai upaya pelemahan telah dialami lembaga antirasuah di setiap era presiden.

Henny menegaskan jangan sampai di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo sejarah mencatat matinya KPK.

“Presiden Abdurahman Wahid merancang KPK, Presiden Megawati Soekarno Putri melahirkan KPK, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melindungi KPK, dan jangan sampai sejarah mencatat KPK mati pada masa Presiden Joko Widodo,” cetus Henny saat berorasi di lobi Gedung KPK, Jakarta, Jumat (6/9).

Selain aksi dari pegawai, sebanyak tujuh karangan bunga terpampang di depan Gedung KPK berisi sindiran dan kata-kata penyemangat pemberantasan korupsi. “Pak Presiden masih semangat memberantas korupsi?” seperti tertulis dalam salah satu karangan bunga di depaj Gedung KPK.

Dalam aksi yang diikuti ratusan pegawai KPK pengunjuk rasa mengenakan pakaian serba hitam. Warna itu merupakan simbol duka atas kondisi KPK yang berada di ujung tanduk lantaran revisi UU KPK. Mereka menyebutkan, KPK lahir bukan untuk pegawai KPK, tapi untuk memberantas masalah kemiskinan, masalah ekonomi dan masalah bangsa Indonesia.

Para pegawai mengajak masyarakat Indonesia bersama pegawai KPK dapat melakukan perlawanan terhadap orang-orang yang ingin melemahkan kinerja pemberantasan korupsi. Karena keberadaan KPK untuk memulihkan ekonomi masyarakat Indonesia. “Siapapun yang sengaja melemahkan KPK kita semua maju dan melawan. Kita lawan. Lawan!,” ujar seorang pegawai dalam orasinya. LN-RED

Sun Sep 8 , 2019
Jaya Wijaya, LiraNews –  Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P bangun komunikasi dengan Bupati Jaya Wijaya John Richard Banua, Tokoh Agama, Tokoh adat, Tokoh wanita, tokoh pemuda serta elemen masyarakat lainnya, bertempat di kantor Bupati Jaya Wijaya, Papua, Sabtu (7/9/2019). Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam pertemuan menyampaikan, akan […]