Uni Edriana, Sayangkan Banyak Yang Belum Kenal Rasuna Said Pahlawan Wanita Asal Sumber

Jakarta (Liranews.com) Edriana, SH, MA. Direktur Women Research Institute
Selama ini perempuan-perempuan Jawa yang ditokohkan, sementara jejak langkah tokoh-tokoh perempuan Minangkabau hampir tidak pernah terdengar. Padahal peran mereka bagi Indonesia, bukan hanya untuk wilayah Sumatera Barat atau Sumatera pada umumnya, tidak kalah penting dibanding dengan perjuangan tokoh-tokoh emansipasi perempuan seperti R.A. Kartini dan Dewi Sartika.Selasa(26/11/2019.

Para ahli sejarah di Sumatera Barat sudah cukup lama memperjuangkan pengakuan publik atas perjuangan perempuan Minangkabau dalam kancah politik kemerdekaan Indonesia. Setidaknya tercatat ada empat nama penting yang patut dijadikan tonggak teladan bagi pergerakan perempuan Indonesia masa kini. H.R Rasuna Said melakukan perlawanan terhadap penjajah melalui kegiatan di bidang pendidikan, media dan politik. Rahmah El Yunusiyah adalah tokoh pendidikan perempuan yang lebih besar perjuangannya daripada RA Kartini karena berhasil mendirikan lembaga pendidikan bagi perempuan, Dinniyah Puteri, yang terkenal hingga saat ini. Ruhana Kuddus adalah tokoh jurnalistik kritis yang melawan penjajahan melalui penyadaran berbangsa. Dan satu tokoh yang melakukan perlawanan terhadap Belanda dari generasi yang lebih awal adalah Siti Manggopoh yang menentang kebijakan sistem pajak Belanda karena bertentangan dengan hukum adat terkait tanah-tanah adat. Perlawanannya memuncak dengan meletusnya Perang Belasting (Pajak) pada tahun 1908.

Suatu bangsa akan kokoh berdiri jika mereka mengenali, menghormati dan meneladani para tokoh sejarahnya dan menjadikan perjuangannya sebagai visi pembangunan di masa depan. Kita harus mengangkat peran strategis tokoh-tokoh perempuan Minang yang selama ini terabaikan agar generasi muda mengenali dan menjadikan perjuangan mereka sebagai visi dalam kehidupan perempuan generasi muda. Secara global kita sekarang juga berhadapan dengan gerakan puritanisme trans-nasional yang menisbikan pentingnya sejarah lokal dan nasional serta mengabaikan kenyataan peran perempuan di ruang publik baik di masa lampau maupun masa sekarang.
Dalam tulisan ini saya menghadirkan secara bersambung sepak terjang para perempuan pelopor dari Sumatera Barat untuk menunjukkan perjuangan perempuan yang memiliki akar sejarah yang kuat dalam tradisi masyarakat dan adat Minang. Saya ingin memperlihatkan kepeloporan dan kepemimpinan perempuan-perempuan Minang bagi Indonesia. Empat tokoh pergerakan kemerdekaan perempuan dari Sumatera Barat tersebut adalah tokoh-tokoh teladan yang harus kita jadikan panutan dan sekaligus visi bagi pembangunan perempuan Minang.
Hajjah Rangkayo (H.R.) Rasuna Said berasal dari keluarga terpandang Minang. Dia adalah anak seorang saudagar yang secara adat dan politik sebetulnya tak terlalu sulit untuk mendapatkan keistimewaan dari pemerintah Jajahan. Di Jawa gelar itu sepadan dengan panggilan Raden Mas, yang artinya adalah anak orang terpandang dan kaya.
Di Jakarta H.R. Rasuna Said menjadi nama jalan utama yang menghubungkan wilayah elit Menteng dengan Kebayoran. Di sepanjang jalan itu terdapat kantor-kantor perwakilan kedutaan Besar negara-negara sahabat. Di sebelah kiri jalan dari arah Kebayoran terdapat pusat perdagangan, perkantoran, mall serta hotel-hotel mewah atau disebut Mega Kuningan. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang tinggal, atau berkantor atau melintasi jalan itu, seberapa jauh mereka tahu bahwa H.R. Rasuna Said adalah perempuan pejuang kemerdekaan melalui pendidikan dan perjuangan politik. Saya tidak yakin banyak yang tahu.

Rasuna Said lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 14 September 1910. Beliau wafat di usia relatif muda, 55 tahun (2 November 1965) dan dikebumikan di TMP Kalibata sebagai pengakuan atas kepahlawananya. Jejak langkahnya dalam membangun pondasi bagi kemajuan perempuan Minang sangat monumental.
Rasuna hidup sezaman dengan tokoh pendidikan perempuan yang sama pentingnya yaitu Rahmah El Yunisyah. S