Untuk Apa Bangun Monumen Salak Di Bangkalan, Kalau Salaknya Tidak Dijaga

  • Whatsapp
banner 468x60

LiraNews, Bangkalan – Kota dzikir dan shalawat merupakan julukan kabupaten Bangkalan saat ini, jauh sebelum dikenal Dzikir dan shalawat, Bangkalan dikenal dengan julukan Kota Salak.

Bukan tanpa alasan Kabupaten yang terletak diujung barat pulau Madura itu, dahulunya menjadi sentra  buah salak. Dimana dahulu banyak tempat di Bangkalan terdapat kebun salak, hingga ada satu tempat ditengah kota bernama kampung pesalakan.

sangat disayangkan saat ini buah salak lokal asli  Bangkalan mulai kehilangan eksistensinya tergantikan salak podoh asal Klaten Jawa Tengah.

Menurut Iyul, salah satu pengepul salak asal Desa Kemayoran, selama ini tidak ada perhatian dari pemerintah kabupaten Bangkalan terhadap petani salak, petani harus mecari jalan sendiri untuk memasarkan salaknya, Kamis (04/07/2019).

“Buat apa dibangun monumen salak di Bangkalan, kalau salaknya tidak dijaga,” tutur Iyul.

Pernyataan serupa datang dari Ummi, wanita paruhbaya yang merupakan seorang pedagang salak di Klobungan menyampaikan bahwa pasar salak lokal sedang sepi pembeli.

“Lebih banyak yang menjual daripada yang membeli,” singkat Ummi.

Lanjut Ummi, saat memasuki musim panen, bukan membuat pedagang/petani salak lokal senang, bahkan membuat dia bingung mau memasarkan salak lokalnya kemana.

Akibat tidak tahu memasarkannya, tidak sedikit salaknya mulai membusuk karena terlalu lama disimpan.

Sementara itu Nur, warga Desa Kraton mengakui bahwa keberadaan salak lokal Bangkalan sudah tergantikan oleh salak pondoh asal Klaten Jawa Tengah.

Menurut dia, Salak lokal Bangkalan disamping lebih murah juga lebih manis dibanding salak pondoh.

“Semoga untuk kedepannya pemerintah bisa membantu petani dan pedagang salak lokal Bangkalan,” harapnya.  LN-MRS

banner 300x250

Related posts

banner 468x60