Wabah Virus Corona, Momentum Konsolidasi Bangsa

Jakarta, LiraNews – Wabah Virus Corona (Covid-19) memaksa seluruh masyarakat Indonesia untuk waspada dan fokus pada upaya melawan dan menangkal penularan. Kondisi ini menjadi momentum konsolidasi sosial politik bangsa. Termasuk memaksimalkan peran pemuka agama atau agamawan.

Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Yawar Pribadi, Ph.D menjelaskan, pemerintah harus mampu memanfaatkan peran agamawan untuk menyebarluaskan protokol pencegahan pandemi Covid-19 yang lebih membumi, baik dengan menggunakan teknologi media maupun dengan cara-cara langsung ke masyarakat.

Berdasarkan survei-survei yang ada, kata Yawar, mayoritas warga Indonesia masih meyakini bahwa agama memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita harus tetap optimis bahwa di seluruh agama yang ada di Indonesia, hanya kelompok-kelompok kecil yang menunjukkan ketidakpatuhan kepada protokol pencegahan pandemi Covid-19. Mayoritas agamawan mendukung pemerintah dalam pencegahan dan penanganan pandemi ini,” kata Yawar.

Bagi Yawar, perbedaan-perbedaan ekspresi keagamaan di Indonesia saat ini memang nyata. Namun, mereka tidak harus dimaknai sebagai pembeda yang memisahkan.

Karena itu, Yawar menyebut beragam perbedaan pandangan keagamaan tersebut harus kita kelola untuk menghasilkan produkproduk demokratisasi yang produktif.

“Produk-produk tersebut antara lain adalah menguatnya hak-hak kewargaan (citizenship) yang lebih komprehensif (hak-hak sipil, politik, dan sosial), representasi kelompok-kelompok keagamaan yang berimbang di ruang publik, dan partisipasi publik dalam bidang agama yang positif dalam mewarnai demokrasi” ungkapnya.

Bagi Yawar, pandemi Covid-19 harus menjadi barometer tumbuhnya konsolidasi demokratis di Indonesia, karena posisinya yang sentral dan strategis dalam perkembangan demokrasi di Indonesia yang akan datang.

Untuk mencapainya, jelas Yawar, diperlukan upaya sinergi yang signifikan dari banyak pihak, tidak hanya dari negara, tetapi juga seluruh agamawan, ilmuwan, masyarakat madani, media massa, dan warga itu sendiri.