Web Gelap Banyak Dilakukan Teroris Untuk Melakukan Serangan

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:

LiraNews.Com

Bagikan:

Jakarta, LiraNews.com – Kasubdit Penyidikan dan Penindakan Kemenkominfo, Teguh Afriadi mengaku sempat mendapat ancaman dari teroris pascapemblokiran aplikasi Telegram pada Jumat (14/7/2017) lalu.

“Dua hari setelah itu, mereka (teroris) marah, Kominfo disebut ikut bagian dari thogut, halal darahnya ditumpahkan. Ini ancaman,” ujarnya.

Para teroris, sebutnya, akan selalu mencari celah-celah yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan serangan termasuk melalui dark web.

“Banyak sekali di Telegram, ada sekitar 54 channel, (yang) spesifik diajarkan bagaimana merakit bom, serang target, semua lengkap,” kata Teguh.

Menurutnya, dalam Telegram para pelaku teror menyebar i8i nama pejabat negara yang dijadikan target penyerangan.

“Bagi pelaku lone wolf, di sana ada daftar nama pegawai lengkap siapa yang jadi targetnya, foto-fotonya,” terangnya.

Selama ini, lanjutnya, kelompok teroris banyak menggunakan aplikasi telegram dalam menjalankan akitivitasnya.

Untuk itu dia menyatakan bahwa pemerintah akan terus berupaya menekan berkembangnya aplikasi yang memungkinakn teroris bisa dengan leluasa melakukan serangan termasuk melalui dark web yang mulai dikhawatirkan.

Sementara itu, Rektor Perbanas Institute Mashudi Wahyu Kisworo mengungkapkan, perkembangan situs web gelap (dark web) yang belum bisa dilacak oleh mesin pencari semacam Google mulai mengkhawatirkan.

Hal ini disinyalir menjadi pilihan baru bagi para teroris untuk melakukan aksinya setelah pemerintah memblokir situs web Telegram.

Kalau dulu dark web, ujarnya, banyak digunakan untuk kegiatan transkasi narkoba dan kejahatan lainnya karena mudah diakses. Akan tetapi, sekarang, web bawah tanah itu mulai digunakan oleh kalangan pelaku aksi terorisme.

“Dulu susah untuk masuk ke dark web, tapi sekarang gampang masuknya dan ini banyak digunakan jaringan teroris,” kata ahli komputer dan telematika.

Bahkan Marsudi mengatakan untuk membuat pasport dengan berbagai kewarganegaraan bisa dilakukan dengan dark web tersebut sehingga membuat pihak keimigrasian kesulitan untuk menghadapinya.

Marsudi menjelaskan konten web gelap itu tidak saja berisi cara perakitan dan pembuatan bom, tapi juga berisi tayangan video berupa tutorial soal radikalisasi. Bahkan melalui web tersebut.

“Juga bisa dilakukan transaksi dengan menggunakan bitcoin, atau nilai tukar yang tidak bisa terlacak secara fisik sehingga aparat keamanan kewalahan untuk memberantasnya,” ringkasnya. LN-DIT

 

Bagikan:
Komentari Melalui Facebook
Sat Jul 29 , 2017
LiraNews.Com