Rahmat Sahid Beberkan Tiga Alasan Santri dan Nahdliyin Harus Cakap Digital

Gravatar Image
  • Whatsapp

INDRAMAYU, LiraNews – Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Rahmat Said menyampaikan tiga alasan penting bagi santri pondok pesantren untuk cakap digital.

Rahmat Sahid mengingatkan, kecakapan atau kemampuan memahami dan mengolah informasi dengan baik adalah keniscayaan bagi para santri, agar mampu bersaing dan tidak tergerus pada hal negatif dari perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat.

Read More
banner 300250

banner 300250

“Setidaknya ada tiga alasan penting mengapa santri dan nahdliyin perlu menguasai kecakapan digital,” kata Rahmat Sahid saat mengisi seminar Literasi Digital bertajuk Kecakapan Digital Menuju Satu Abad NU di Pondok Pesantren Darussalam Indramayu Jawa Barat, Selasa (9/8/2022).

Rahmat Sahid menjelaskan, tiga alasan pentingnya kecakapan digital bagi santri dan nahdliyin adalah Pertama terkait ekosistem digital; Kedua, konten populer; dan Ketiga, dakwah milenial.

Pertama, ekosistem digital.

Berdasarkan data tahun 2021 pengguna internet di Indonesia mencapai 202, 6 juta atau 73 persen dari jumlah penduduk. Artinya,  hampir semua warga negara adalah pengguna internet.

“Itulah kenapa penting kita menjadi cakap digital,” ujar pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah itu.

Kedua, konten populer.

Menurut data Alexa 10 besar website terpopuler di Indonesia tidak memiliki  konten yang berbau islami atau dakwah milenial.

“Ini menjadi tantangan santri dan kaum nahdliyin bahwa konten Islami yang sifatnya dakwah digital itu perlu kita ambil agar cakap dalam mengelola digital yang sedang kita jalani,” tutur penulis buku Biografi Tokoh Politik itu.

Ketiga, dakwah milenial.

Menurut Rahmat Sahid, dakwah milenial erat kaitanya dengan mengapa kecakapan digital membuka peluang besar bagi santri untuk memperluas cakupan dakwah.

“Tiga hal ini menjadi alasan penting kenapa harus cakap digital merujuk apa pentingnya era kebangkitan kita sebagai kaum nahdliyin,” tandas Rahmat Sahid yang alumni UIN Syarief Hidayatullah Jakarta.

Rahmat Sahid, Wakil Ketua LTN PBNU

Lalu strategi apa yang harus dilakukan santri dan warga NU untuk menjawab kecakapan digital tersebut?

Wakil Ketua PWNU Jawa Barat Iin Rohimin menyebut ada dua langkah yang bisa dilakukan. Pertama, kalangan NU harus sadar media; Kedua, pelatihan pengelolaan media bagi santri dan warga nahdliyin.

Rohimin mengibaratkan kecakapan digital seperti manusia dibalik senjata. Jadi pengguna internet bisa mengendalikan aktivitas sosial media tergantung pada diri masing-masing.

“Itu yang disebut kecakapan digital artinya kemampuan, kesadaran, kehebatan dalam menggunakan media atau digital,” terang penulis buku sorot anak bangsa itu.

Kesadaran media menurutnya penting sebab saat ini banyak media yang mengarahkan masyarakat ke informasi yang tidak benar.

“Kita harus baca media yang valid saya kasih gambaran validnya. Sekarang ada 47 ribu media di Indonesia dan hanya 347 media berita yang terverifikasi dewan pers. Artinya kita harus jeli membuka media mana yang sudah terverifikasi. Di situlah pentingnya sadar media,” jelasnya.

“Saya mendapat informasi sebentar lagi google akan membuat aturan polisi digital. Sistemnya nanti jika mengendalikan informasi yang tidak valid maka akan terlihat ini sudah dilakukan oleh youtube, tiktok dan lainnya. NU Online saat ini akan mencapai upaya itu,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua LTN PWNU Jawa Barat, Zainudin mengatakan literasi digital  jangan dimaknai pendek itu bisa berupa video, tulisan atau narasi yang disuarakan seperti radio.

Dalam kesempatan itu ia mengajak para santri menguatkan literasi digital dengan cara sederhana yakni mengakses media sosial para ulama NU baik melalui fanpage, youtube dan lainnya.

“Semangat kita untuk  menyebarkan literasi yang baik iya dengan itu salah satunya. Teruslah menjadi pegiat literasi digital menuju satu abad NU,” pesannya.

Related posts